3 Pengetahuan Dasar Sebelum Belajar Bahasa Arab

belajar bahasa arab

Belajar suatu bahasa tertentu pasti memiliki cara tersendiri. Ada beberapa aturan yang bersifat khusus dan tidak bisa diterapkan secara universal. Aturan itu berkenaan dengan kekhasan bahasa itu sehingga harus mendapatkan perhatian ketika seseorang mulai mempelajari bahasa itu.

Kekhasan ini berlaku juga ketika kita belajar bahasa Arab. Bahasa Arab adalah bahasa AlQuran. Bahasa Arab akan menjadikan AlQuran sebagai sumber aturan tata bahasanya. Sehingga, karena AlQuran adalah kitab yang senantiasa terjaga dari perubahan, penyesuaian, dan manipulasi, maka bahasa Arab juga akan terjaga dari hal yang serupa.

Dr. Abdullah Abbas Nadwi, dalam buku Learn the Language of the Holy Quran, menulis dalam kata pengantar bukunya, “Pada saat ini kebanyakan bahasa Semit telah punah. Bahasa-bahasa Semit yang masih hidup adalah bahasa Arab, bahasa Yahudi Modern, Amhar, dan dialek Aramiy. Bahasa Arab bukan hanya merupakan bahasa yang sepenuhnya hidup, melainkan juga memiliki arti penting khusus. Bahasa Arab itu sendiri juga dapat berfungsi sebagai sumber pengetahuan seluruh bahasa Semit. Setiap kali para ahli tata bahasa Semit menjumpai masalah rumit di bidangnya, mereka memerlukan panduan berupa aturan tata bahasa Arab yang sepadan, khususnya aturan-aturan tata bahasa yang ada di dalam AlQuran. Selain itu, perubahan besar telah terjadi pada kosakata seluruh bahasa Semit – apalagi perubahan pada arti kata – yang versi masa kininya hanya memiliki sedikit kesamaan dengan versi aslinya. Satu-satunya rumpun bahasa Semit yang dapat dikecualikan dari perubahan ini adalah bahasa Arab – bahasa AlQuran, yang memakai tata bahasa, sintaksis, dan kosakata aslinya – sehingga bahasa Arab menjadi pola dasar seluruh rumpun bahasa Semit.”

Adapun beberapa karakteristik bahasa Arab yang unik dibandingkan dengan bahasa yang lain adalah:

 

1 Aksara Khusus Berupa Huruf Hijaiyyah

belajar menulis arab

Aksara adalah jenis sistem tanda grafis tertentu atau sistem tanda grafis yg digunakan manusia untuk berkomunikasi dan sedikit banyaknya mewakili ujaran. Aksara sering disebut juga dengan huruf di dalam bahasa Indonesia. Bahasa Arab menggunakan huruf Arab dalam penulisannya. Aksara Arab adalah aksara yg mula-mula digunakan untuk menuliskan bahasa Arab, diturunkan dari Aramea, ditulis dari kanan ke kiri.

Untuk kasus ini bahasa Arab setara dengan bahasa China, Jepang, Korea, India, atau Jawa yang masing-masing memiliki aksara sendiri untuk menuliskannya. Untuk belajar bahasa Arab tulis, seorang yang belajar bahasa ini harus tahu lebih dulu bagaimana bunyi ujaran dituliskan ke dalam aksara Arab dan sebaliknya bagaimana aksara Arab dibunyikan dalam ujaran.

Aksara Arab terdiri dari 28 huruf (29 jika hamzah dianggap sebagai huruf tersendiri) yang dikenal sebagai huruf-huruf Hijaiyyah. Tiga huruf di antaranya: alif, waw, dan ya’ digunakan sebagai vocal panjang (seperti aa, ii, uu), sebagai diftong atau bunyi rangkap (seperti ai, au), dan juga sebagai konsonan lemah.

Apabila bahasa Arab dituliskan dalam aksara Latin, maka yang sebenarnya ditulis adalah bunyinya atau pelafalannya melalui metode transliterasi.

 

2 Bahasa Arab Memiliki Panjang dan Pendek

Belajar bahasa Arab adalah belajar bagaimana pelafalan panjang dan pendek suatu kata sangatlah berbeda, karena perbedaan panjang dan pendek ini akan mempengaruhi arti. Ada bacaan yang dilafalkan sepanjang satu ketuk, dua ketuk, bahkan sampai empat, lima, atau enam ketuk.

Dalam bahasa Indonesia pengucapan panjang dan pendek tidak mempengaruhi arti secara mendasar, meskipun kadang-kadang masih bisa berpengaruh dalam tekanan secara lisan.

Misal:

Perhatikan perbedaan ketiga kata berikut.

Tolong.

Tolooong.

Tolooooong.

Pergi.

Pergiii.

Pergiiiii.

Secara prinsip tidak ada perbedaan makna mendasar dalam beberapa pernyataan di atas. Meskipun, kata dengan huruf vocal yang makin panjang bisa diartikan bahwa kata tersebut kemungkinan diucapkan dengan lebih keras atau lebih kuat.

 

3 Jenis Kata Berdasarkan Tashrif

Bahasa Arab membagi jenis kata menjadi tiga kelompok besar, yaitu: kata kerja, kata benda, dan huruf.

Kata Kerja dan Kata Benda

Pembentukan kata kerja dan kata benda pada umumnya dilakukan dengan menggunakan wazan tertentu yang diterapkan pada suatu akar kata. Wazan adalah rumus atau pola atau timbangan atau bentuk asal yang baku. Akar kata adalah gabungan beberapa huruf Arab yang menjadi dasar perubahan menjadi kata baru dengan makna yang baru setelah diberikan afiks atau imbuhan tertentu. Akar kata paling umum terdiri dari tiga huruf (tsulatsiy). Ada juga yang mengandung empat huruf (ruba’iy), namun jumlahnya jauh lebih sedikit sedikit.

Pembentukan kata kerja dan kata benda ini dalam bahasa Arab dikenal sebagai tashrif dan dipelajari dalam ilmu bahasa Arab khusus yang dikenal sebagai ilmu shorof atau ilmu tashrif. Tashrif menurut bahasa artinya berubah. Sebagai istilah dalam Linguistik, tashrif dikenal sebagai konjugasi. Tashrif atau konjugasi adalah sistem perubahan bentuk kata kerja (verba) atau kata benda (nomina) yang berhubungan dengan jumlah, jenis kelamin, modus, dan waktu. Oleh karena itu, ilmu tashrif juga bisa diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang perubahan kata dari satu kata dasar menjadi beberapa kata jadian. Tashrif ada dua macam, yaitu tashrif ushul (perubahan asal, pokok, atau dasar) dan tashrif far`i (perubahan cabang).

Misal:

Satu kata dasar atau akar kata [nashoro] yang artinya [menolong] pada asalnya dapat ditashrif (tashrif ushul) menjadi 12 kata/pola sebagai berikut:

NO TASHRIF USHUL MAKNA JENIS KATA TASHRIF FAR`I
1 nashoro telah menolong Kata kerja lampau aktif 14 kata
2 yanshuru akan/sedang menolong Kata kerja sedang/akan aktif 14 kata
3 nushiro telah ditolong Kata kerja lampau pasif 14 kata
4 yunshoru akan/sedang ditolong Kata kerja sedang/akan pasif 14 kata
5 unshur tolonglah Kata kerja perintah 6 kata
6 laa tanshur jangan menolong Kata kerja melarang 6 kata
7 nashron pertolongan Kata benda abstrak 3 kata
8 naashirun yang menolong Kata benda pelaku atau subjek 6 kata
9 manshuurun yang ditolong Kata benda yang dilakukan atau objek 6 kata
10 manshorun waktu menolong Kata benda menerangkan waktu 3 kata
11 manshorun tempat menolong Kata benda menerangkan tempat 3 kata
12 minshorun alat menolong Kata benda menerangkan alat 3 kata
JUMLAH 92 kata

 

Dan, dari setiap kata tersebut dapat ditashrifkan lagi menjadi beberapa kata (tashrif far`i) yang berjumlah total 92 kata.

Jadi, mengetahui 1 (satu) kata dasar saja, apabila kita sudah memahami pola tashrifnya, pada saat yang sama, kita akan mengetahui 92 (sembilan puluh dua) kata jadian yang berasal dari kata dasar tersebut. Hal ini akan mempercepat seseorang memperkaya perbendaharaan kata, di samping itu juga mampu menterjemahkan AlQuran atau AlHadits dengan tepat sesuai dengan pola kata itu.

Selain kata benda yang terbentuk dari wazan yang mengalami tashrif, ada juga kata benda yang memang sudah berjenis kata benda dari aslinya. Kata benda seperti ini tidak bisa diubah menjadi kata benda. Biasanya kata benda yang masuk kategori ini adalah kata benda sebagai nama.

Bahasa Arab hanya mempunyai satu kata sandang tertentu, yaitu al, yang digunakan untuk mengubah kata benda biasa menjadi kata benda nama diri. Dalam bahasa Inggris kata sandang ini setara dengan kata the.

Misal:

kitab                             [a book]           sebuah buku

al kitab                        [the book]        buku itu

Kedua kata tersebut sama-sama berarti buku. Yang pertama tidak tentu, sedangkan yang kedua sudah tertentu.

Huruf

Sementara itu, huruf yang dimaksud di dalam jenis kata ini bukan sebagaimana makna huruf yang dikenal dalam bahasa Indonesia. Huruf di dalam pengertian ini mengacu kepada makna kata tugas dalam bahasa Indonesia. Bentuk turunan huruf adalah sebagai kata sambung atau kata penghubung. Kata tugas atau huruf ini didefinisikan sebagai: kata yang terutama menyatakan hubungan gramatikal yang tidak dapat bergabung dengan afiks atau imbuhan, dan tidak mengandung makna leksikal.

Huruf tidak memiliki tanda-tanda khusus seperti halnya kata benda atau kata kerja. Untuk mengenalnya bisa dilihat melalui arti dari kalimat itu sendiri. Jadi, sebuah huruf hanya akan memiliki makna ketika ia dipergunakan dalam konteks kalimat. Huruf tidak bisa dilakukan konjugasi, sehingga huruf tidak bisa diubah menjadi kata benda maupun kata kerja.

Misal:

dan – wa

maka – fa

atau – au

kemudian – tsumma

akan – sa/saufa

 

Simpulan

Demikian tiga hal utama yang menjadi ciri khas bahasa Arab dibandingkan dengan bahasa yang lain. Memahami ketiga hal di atas dengan benar akan menjadi sebuah keuntungan yang luar biasa. Di dalamnya terkandung karakteristik unik yang akan sangat membantu para pembelajar dalam rangka belajar bahasa Arab dengan lebih mudah dan lebih cepat dengan cara yang sederhana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *