5 Karakter Emosi dalam Film Inside Out

Inside_Out_(2015_film)_poster

Inside Out adalah film animasi 3D Amerika tahun 2015 yang diproduksi oleh Pixar Animation Studios dan dirilis oleh Walt Disney Pictures. Film ini disutradarai dan ditulis oleh Pete Docter. Setting film ini adalah di dalam pikiran seorang gadis muda bernama Riley Andersen (Kaitlyn Dias), di mana lima personifikasi emosi –Joy (Amy Poehler), Sadness (Phyllis Smith), Fear (Bill Hader), Anger (Lewis Black), dan Disgust (Mindy Kaling)- mencoba untuk mengarahkannya menjalani hidup saat orang tuanya (Diane Lane dan Kyle MacLachlan) pindah dari Minnesota ke San Fransisco, California dan menyesuaikan diri dengan kehidupan yang baru di sana.

Awalnya Pete Docter memulai pengembangan Inside Out pada 2009 setelah melihat perubahan dalam kepribadian putrinya saat si buah hati tumbuh makin dewasa. Produser film berkonsultasi dengan banyak psikolog, termasuk Dacher Keltner dari University of California, Berkeley, yang membantu merevisi cerita yang menekankan temuan neuropsikologi bahwa emosi manusia tercermin di dalam hubungan interpersonal dan dapat secara signifikan dimoderatori oleh mereka.

Inside Out menerima rating 98% di Rotten Tomatoes. Kritikus memuji konsep film, materi pelajaran, skor musik, dan pertunjukan vocalnya. Film ini meraup $ 90.400.000 di akhir pekan pertama- pembukaan tertinggi untuk judul asli. Film ini telah mengumpulkan lebih dari $ 851.000.000 pendapatan box office di seluruh dunia. Bersama dengan The Good Dinosaur, film ini menandai untuk pertama kalinya Pixar merilis dua film di tahun yang sama.

 

SINOPSIS FILM INSIDE OUT

Seorang gadis bernama Riley lahir di Minnesota, dan di dalam pikirannya, lima personifikasi emosi dasarnya – Joy, Sadness, Fear, Disgust, dan Anger – yang hidup dan memutuskan setiap tindak-tanduknya. Para karakter emosi tinggal di Markas, pikiran sadar Riley, di mana mereka mempengaruhi tindakan dan kenangan Riley melalui konsol kontrol. Kenangan baru disimpan dalam bola berwarna, yang dikirim ke memori jangka panjang pada setiap akhir periode bangun tidur Riley. Kenangan yang paling penting, yang dikenal sebagai kenangan “inti”, yang bertempat tinggal di sebuah hub di Markas dan lima “pulau” kekuasaan, masing-masing mencerminkan aspek-aspek dari kepribadian Riley yang berbeda. Joy melakukan segalanya yang ia bisa demi menjaga Riley selalu dalam keadaan bahagia, tetapi karena dia dan emosi yang lain tidak mengerti tujuan Sadness, mereka mencoba untuk menjauhkan Sadness dari mengendalikan konsol.

Ketika Riley berusia 11 tahun, keluarganya pindah ke San Francisco setelah ayahnya mendapat pekerjaan baru. Namun, rumah baru mereka tak seperti yang diharapkan, dan barang-barang mereka yang masih dalam mobil telah hilang di Texas. Joy prihatin ketika Sadness mulai menyentuh kenangan indah, sehingga menyebabkannya berubah menjadi sedih, sehingga dia mencoba menjaga Sadness supaya terisolasi. Namun, pada hari pertama Riley di sekolah barunya, Sadness tidak sengaja menyebabkan Riley menangis di depan kelasnya, menciptakan kenangan inti yang sedih. Joy mencoba untuk membuang memori inti yang baru tersebut sebelum mencapai hub pusat, tapi justru dia tidak sengaja mengetuk kenangan inti lainnya yang longgar, sehingga mematikan pulau kepribadian dan membuatnya tidak stabil. Saat Joy akan mengumpulkan kenangan inti, ia bersama dengan Sadness dan kenangan inti justru tersedot keluar dari Markas melalui tabung memori yang mengarah ke alam bawah sadar Riley. Mereka terdampar di labirin tempat penyimpanan kenangan jangka panjang Riley dan berusaha kembali ke Markas.

Anger, Disgust, dan Fear berupaya untuk mempertahankan kondisi emosional Riley dalam ketiadaan Joy, tapi secara tidak sengaja malah menjauhkan Riley dari orangtuanya, teman-temannya, dan hobinya, sehingga pulau kepribadiannya perlahan runtuh dan jatuh ke dalam Dump Memory, sebuah jurang di mana kenangan yang memudar akan dibuang dan dilupakan. Anger menyisipkan ide melarikan diri ke Minnesota ke konsol kontrol, yang dipercayainya dapat menghasilkan kenangan inti baru yang bahagia di sana. Sementara itu, Joy dan Sadness menemukan Bing Bong, teman imajiner masa kecil Riley, yang putus asa untuk bisa berhubungan kembali dengan Riley. Kata Bing Bong, mereka bisa menuju ke Markas dengan mengendarai kereta pemikiran. Setelah menjelajahi daerah pikiran Riley yang berbeda, mereka bertiga akhirnya naik kereta, namun tergelincir keluar rel ketika pulau kepribadian yang lain jatuh.

Saat Riley bersiap untuk naik bus menuju Minnesota, Joy mencoba menggunakan “tabung recall” untuk kembali ke Markas tanpa mengajak Sadness karena takut sentuhan Sadness akan mengubah kenangan inti bahagia menjadi sedih jika mereka bepergian di tabung bersama-sama. Akhirnya, pulau kepribadian terakhir jatuh dan memecahkan tabung, mengirim Joy ke Dump Memory bersama dengan Bing Bong. Saat merasa putus asa melihat kenangan lama, Joy menemukan sebuah kenangan sedih dalam hidup Riley yang berubah menjadi bahagia ketika orangtuanya dan teman-temannya datang menghiburnya setelah kehilangan alat permainan hoki, menyebabkan Joy menyadari benar pentingnya peran Sadness: Kesedihan mampu mengingatkan orang lain di saat Riley membutuhkan bantuan atau hiburan.

Joy dan Bing Bong mencoba menggunakan wagon roket Bing Bong yang dibuang untuk keluar dari Dump Memory, akan tetapi setelah beberapa kali gagal, Bing Bong menyadari bahwa berat badan gabungan mereka terlalu berat dan kemudian melompat keluar, sehingga memberi kesempatan Joy untuk melarikan diri. Bong memudar, akhirnya dilupakan. Joy menggunakan berbagai alat dari Tanah Imajinasi (Imagination Land) untuk mendorong dirinya bersama Sadness ke Markas, di mana mereka menemukan bahwa ide Anger yang telah menonaktifkan konsol kontrol, menyebabkan Riley mati rasa dan apatis. Ketika Joy menghibur, Sadness mengambil kendali konsol dan berhasil mengaktifkan konsol kontrol dan mendorong Riley untuk kembali ke rumah.

Saat Sadness menginstal ulang kenangan inti dan mengambil kendali konsol, Riley tiba di rumah dan menangis, mengaku kepada orangtuanya bahwa dia merindukan kehidupan lamanya dan bahwa dia tidak bisa terus berpura-pura bahagia sepanjang waktu. Saat orang tuanya menyamankan dan meyakinkannya, Joy dan Sadness bekerja sama untuk menciptakan memori inti yang baru, yang menciptakan sebuah pulau kepribadian yang jauh lebih besar. Setahun kemudian, Riley telah berusia 12 dan telah beradaptasi dengan rumah barunya, dan sekarang semua emosinya bekerja sama untuk membantunya menjalani kehidupan yang lebih kompleks dan melibatkan semua potensi emosinya.

 

Karakter EMOSI dalam FILM INSIDE OUT

Ada lima karakter Inside Out yang menarik untuk dikenali. Inside Out sendiri berkisah tentang sejumlah proses emosional yang ada dalam kepala seorang anak gadis bernama Riley. Proses emosional dalam kepala Riley tersebut bukan murni emosional saja, melainkan tetap mempertimbangkan kognitifnya juga. Film ini pun memiliki fokus pada dinamika dari setiap personifikasi emosi yang ada dalam kepala Riley, yang sebenarnya ada pula dalam setiap kepala manusia.

Menurut teori Paul Ekman, lima karakter emosi dalam film Inside Out, yakni Joy (senang), Sadness (sedih), Fear (takut), Anger (marah), dan Disgust (jijik) merupakan lima dari enam emosi dasar manusia. Jadi, sebenarnya masih ada satu emosi lainnya, yaitu Surprise (kaget). Sedangkan dalam teori Plutchik, selain enam emosi tersebut, ia menambahkan anticipation (antisipasi) dan acceptance (penerimaan).

Sutradara Pete Docter menuangkan imajinasinya dalam cerita tentang anak gadis berusia 11 tahun bernama Riley. Alkisah, dalam kepala Riley terdapat sebuah “Markas” dan lima karakter emosi yang menentukan perilakunya sehari-harinya. Keunikan dari lima karakter emosi dalam film Inside Out adalah warna-warna mereka yang berbeda, dan warna mereka masing-masing itu ternyata memiliki alasan tersendiri.

 

JOY (Senang / Bahagia)

inside-out-joy

Joy (Amy Poehler) yang menjadi kebahagiaan Riley berwarna kuning berkilauan. Karakter optimis yang selalu berusaha membawakan keceriaan dalam hidup Riley. Dia adalah pemimpin yang bisa menangani hampir semua situasi buruk, dan selalu berusaha untuk tetap bersikap ceria. Joy melihat tantangan dalam hidup Riley sebagai kesempatan, dan masa-masa yang tak terlalu menyenangkan hanya sesuatu yang harus dilewati sebelum mendapatkan sesuatu yang lebih besar. Joy muncul saat pertama kali Riley lahir dan untuk pertama kali bisa melihat orang tuanya. Itulah emosi pertama kali yang dirasakan Riley dan menjadi kenangan dalam kehidupannya. Semua orang pasti ingin merasakan emosi yang satu ini, namun harus difahami bahwa hidup tidak selalu bahagia selamanya. Pete Docter, sutradara Inside Out, menjelaskan makna dari warna emosi yang dimiliki Joy. “Kita memilih Joy dengan warna kuning karena kita memikirkan tentang kembang api. Kamu tahu? Seperti ledakan, dan memiliki energi untuk itu,”

 

SADNESS (Sedih)

inside-out-sadness

Sadness (Phyllis Smith) yang mengingatkan Riley akan masa-masa kelamnya berwarna biru. Tak ada satupun dari empat karakter emosi Riley lainnya yang mengerti tugas Sadness. Dia sebenarnya ingin membantu Riley untuk bersikap optimis, tetapi sangat sulit menjaga aura positif pada karakter emosi berwarna biru itu. Sadness bertanggung jawab di semua sikap melancholic Riley. Ketika sedang sedih orang cenderung malas untuk melakukan sesuatu. Ini sesuai sekali dengan karakter Sadness dalam film ini. Sedih adalah emosi yang sering datang dalam kehidupan manusia, adakalanya memang harus dilampiaskan dalam tangisan, supaya beban bisa sedikit berkurang. Melalui emosi Sadness, sang sutradara Pete ingin menunjukkan bahwa kesedihan tidak selalu buruk. Orang-orang sering memaknai kesedihan sebagai sesuatu yang pantas dijauhi, namun sesungguhnya kesedihan juga bisa  merupakan sesuatu yang baik. Kesedihan bisa mengajarkan orang-orang sesuatu.

 

FEAR (Takut)

inside-out-fear

Fear (Bill Hader) sebagai emosi ketakutan dalam segala tindak tanduk Riley berwarna ungu. Tugas utama tokoh Fear yang disuarakan Bill Hader ini adalah membuat Riley tetap aman dan terlindungi. Dia selalu memberikan kewaspadaan akan potensi insiden dan bencana, serta memperhitungkan risiko tiap hal yang dilakukan Riley sehari-hari.
Sebagian besar aktivitas Joy membuat Fear merasa heboh karena menganggapnya berbahaya. Fear membuat Riley selalu berfikir ulang dan selalu mempertimbangkan ketika akan melakukan sesuatu hal. Dengan cara itulah Riley bisa lebih terjaga dan aman. Apabila karakter Fear kurang berperan, barangkali manusia akan menantang semua bahaya yang ada di sekitarnya. Sebaliknya, apabila ia kurang berperan, karakter ini bisa yang menghadirkan phobia-phobia di dalam hidup manusia.

 

ANGER (Marah)

inside-out-anger

Anger (Lewis Black) yang menjujung tinggi keadilan dan memastikan Riley mendapatkan keadilan dalam segala hal memiliki warna merah. Anger adalah wujud dari kemarahan Riley. Dan ketika sesuatu tak seperti yang diharapkan, Anger akan mengambil alih Markas. Anger ini mengambil alih saat-saat di mana Riley merasa dirinya perlu didengarkan. Meluapkan rasa yang tersimpan dalam hati. Karakter Anger ini sering digunakan untuk menyalurkan perasaan terkekang. Namun juga harus bijak, tidak ada yang baik dari sesuatu yang berlebihan. Ketika bisa dikelola dalam manajemen kemarahan yang baik maka emosi ini akan membawa pengaruh yang positif.

 

DISGUST (Jijik)

inside-out-disgust

Disgust (Mindy Kaling) yang menentukan standar Riley dalam segala hal memiliki warna hijau. Karakter ini mungkin yang paling jujur dan tak naif. Disgust membantu Riley agar tidak keracunan, secara fisik maupun sosial. Jadi, tugas Disgust adalah bersikap hati-hati dan memasang mata pada orang-orang yang berhubungan dengan Riley, termasuk menjauhkannya dari sayuran brokoli. Karakter emosi ini melindungi manusia dari hal-hal yang terlalu berlebihan, aneh, atau ekstrem di sekitar kita. Tujuan adanya rasa jijik dalam diri kita adalah untuk memberi alarm, bahwa ada sesuatu yang bahaya di hadapan kita – misalnya ketika ada makanan yang berbahaya. Sehingga, ada peringatan sebelum sesuatu terjadi. Karena, pada saat-saat tertentu, rasa jijik membuat kita itu lebih manusiawi. Ketika manusia merasa tidak cocok dengan sesuatu hal, maka ia akan lebih berhati-hati terhadapnya dan bersikap menjaga jarak. Dengan kata lain, ia akan merasa jijik untuk bergabung dengannya. Jadi, Disgust berperan besar dalam memutuskan di kelompok mana seharusnya seseorang berada.

 

Kesimpulan

Hidup akan penuh warna, tidak hanya satu warna. Semua karakter emosi akan tampil secara bergantian. Dalam berbagai situasi dan kondisi, masing-masing emosi akan berperan sesuai dengan karakternya secara tepat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *