Mengembalikan Fungsi Masjid seperti Zaman Nabi

Degradasi Fungsi Masjid

Idealnya, yang namanya Rumah Allah adalah tempat di mana seorang hamba, baik sendiri maupun berkelompok dengan hamba-hamba Allah yang lain, bisa berdekat-dekat dengan Allah. Rumah Allah adalah sebuah rumah yang terbuka seluas-luasnya untuk hamba melakukan berbagai macam kebaikan atas nama Allah. Seharusnya segala aspek kehidupan bisa terayomi oleh Rumah Allah yang umat mengenalnya sebagai masjid ini.

Ironinya, lain dulu lain sekarang. Rasulullah membangun peradaban dari masjid sebagai pusat. Saat ini, masjid adalah pinggiran. Sering kita melihat tulisan peringatan seperti berikut ini di masjid-masjid.

Dilarang menginap di masjid.

Dilarang tiduran dan istirahat di masjid.

Anak-anak dilarang bermain dan membuat kegaduhan di masjid.

Dilarang charge hp di masjid.

Dilarang makan dan minum di dalam masjid.

Fungsi masjid pada zaman sekarang sudah sangat terdegradasi. Jika dulu masjid memiliki multifungsi, kini masjid hanya berperan sebagai tempat ibadah dan ceramah agama saja yang selama ini lazim dilakukan di Indonesia. Kalau bukan waktu salat, masjid sangat sepi. Hanya pengurus masjid yang sesekali membersihkan masjid.

Sebenarnya fungsi-fungsi ideal sebuah masjid itu bukan hilang sama sekali dari umat, akan tetapi satu demi satu diambil alih oleh lembaga lain. Keadaan kini telah berubah. Timbul lembaga-lembaga baru yang mengambil-alih sebagian peranan masjid di masa lalu, yaitu organisasi-organisasi keagamaan swasta dan lembaga-lembaga pemerintah, sebagai pengarah kehidupan duniawi dan ukhrawi umat beragama. Lembaga-lembaga itu memiliki kemampuan material dan teknis melebihi masjid.

Tidak ada yang salah dengan pengambilalihan peran ini, ketika saat ini masjid belum mampu melakukannya, meskipun tentu saja itu bukan kondisi ideal yang diharapkan umat Islam, karena: pertama, peran-peran itu akan terpisah-pisah dan tidak terpusat dan terintegrasi, kedua, potensi masjid yang begitu besar menjadi tersia-siakan, dan ketiga, umat cenderung memisahkan urusan dunia dan akhirat baik disadari atau tidak. Pada masa yang akan datang, harus ada sebuah upaya kolektif yang disepakati bahwa pusat kegiatan umat Islam adalah masjid.

Sejarah Hijrah ke Madinah

Ketika Rasulullah saw berhijrah ke Madinah, langkah pertama yang beliau lakukan adalah membangun masjid kecil dengan bangunan fisik yang sangat sederhana, yang berlantaikan tanah, dinding dan atapnya dari pelepah kurma. Namun demikian, masjid tersebut memainkan peranan yang sangat signifikan dan menjalankan multi fungsi dalam pembinaan umat. Dari sana beliau membangun masjid yang besar, membangun dunia ini, sehingga kota tempat beliau membangun itu benar-benar menjadi Madinah, (seperti namanya) yang arti harfiahnya adalah ‘tempat peradaban’, atau paling tidak, dari tempat tersebut lahir benih peradaban baru umat manusia.

Masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah Saw. adalah Masjid Quba’, kemudian disusul dengan Masjid Nabawi di Madinah. Terlepas dari perbedaan pendapat ulama tentang masjid yang dijuluki Allah sebagai masjid yang dibangun atas dasar takwa (Al-Taubah [9]: 108), yang jelas bahwa keduanya–Masjid Quba dan Masjid Nabawi– dibangun atas dasar ketakwaan, dan setiap masjid seharusnya memiliki landasan dan fungsi seperti itu. Itulah sebabnya mengapa Rasulullah saw meruntuhkan bangunan kaum munafik yang juga mereka sebut masjid, dan menjadikan lokasi itu tempat pembuangan sampah dan bangkai binatang, karena di bangunan tersebut tidak dijalankan fungsi masjid yang sebenarnya, yakni ketakwaan.

Masjid Nabawi di Madinah telah menjabarkan fungsinya sehingga lahir peranan masjid yang beraneka ragam. Sejarah mencatat tidak kurang dari sepuluh peranan yang telah diemban oleh Masjid Nabawi, yaitu:
1. Tempat ibadah (shalat, dzikir).
2. Tempat konsultasi dan komunikasi (masalah ekonomi-sosial budaya).
3. Tempat pendidikan.
4. Tempat santunan sosial.
5. Tempat latihan militer dan persiapan alat-alatnya.
6. Tempat pengobatan para korban perang.
7. Tempat perdamaian dan pengadilan sengketa.
8. Aula dan tempat menerima tamu.
9. Tempat menawan tahanan.
10. Pusat penerangan atau pembelaan agama.

Fungsi Masjid yang Sesungguhnya di Masa Rasulullah saw

Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat beribadat magdhah, seperti shalat dan dzikir, tetapi masjid juga sebagai tempat berbagai kegiatan umat dalam rangka pemberdayaan umat. Dari pembinaan yang dilakukan Rasulullah di masjid itu lahirlah tokoh-tokoh yang berjasa dalam pengembangan Islam ke seantero penjuru dunia, seperti Abu Bakar  Ash-Shiddiq, Umar bin al-Khatab, Usman bin ‘Affan, dan Ali bin Abi Thalib.

Fungsi-fungsi itu selengkapnya adalah sebagai berikut:

Manifestasi pemerintahan terlaksana di dalam masjid, baik pada pribadi-pribadi pemimpin pemerintahan yang menjadi imam/khatib. Masjid juga digunakan sebagai tempat bertemunya pemimpin (pemerintah) dengan rakyatnya untuk bermusyawarah membicarakan berbagai kepentingan bersama. Di masjid juga Nabi menerima delegasi atau tamu dari luar negeri dan mengirim utusannya ke luar negeri, sebagai pusat penerangan dan pembelaan agama.

Masjid di zaman Nabi merupakan pusat pembinaan ruhiyah (tarbiyah ruhiyah) umat Islam. Di masjid ini ditegakkan shalat lima waktu secara berjamaah. Masjid berperan untuk membina dan meningkatkan kekuatan ruhiyah (keimanan) umatnya. Dalam konteks ini sebaiknya dihayati firman Allah dalam surat An-Nur 36-37: “Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di waktu pagi dan petang, orang-orang yang tidak dilalaikan oleh urusan bisnis dan perdagangan atau aktivitas apapun dari mengingat Allah, mendirikan shalat, membayarkan zakat, mereka takut akan suatu hari, di mana pada hari itu hati dan penglihatan menjadi guncang.

Masjid sebenarnya merupakan “kolam-kolam spiritual” yang akan menghilangkan dahaga spiritual setiap muslim. Tujuan didirikannya suatu masjid tercermin dalam kalimat-kalimat adzan yang dikumandangkan oleh muadzin. Ketika adzan dikumandangkan setiap muslim diperintahkan untuk menjawab/memenuhi panggilan itu dan meninggalkan segala aktivitas lainnya. Ini merupakan suatu bentuk latihan kepatuhan, kedisiplinan, dan latihan militer.

Tujuan mendirikan shalat adalah untuk mengingat Allah, “aqimish shalaata li dzikrii” (Thaha: 14). Mengingat Allah merupakan cara yang tepat untuk memperoleh ketenangan jiwa dan pikiran, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (Ar-Ra’du: 28). Oleh karena itu, masjid merupakan tempat yang ideal untuk menenangkan hati dan pikiran. Di zaman modern ini banyak orang yang hidup gelisah, banyak harta dikorbankan dan berbagai cara dilakukannya untuk memperoleh ketenangan, namun ketenangan yang dicari tak kunjung datang.

Masjid  juga berperan sebagai tempat pendidikan dan pengajaran, serta pengembangan ilmu pengetahuan. Di masjid Nabi mendidik para sahabatnya dan mengajarkan ajaran Islam dalam berbagai aspek kehidupan. Di masjid para dai dilatih untuk kemudian dikirim ke berbagai daerah untuk mengajarkan Islam kepada penduduknya. Masjid  juga digunakan sebagai tempat membaca puisi-puisi ruhiyah yang memuji Allah dan Rasul-Nya, sehingga Nabi mempunyai penyair yang terkenal yaitu Hasan bin Tsabit. Masjid juga berfungsi sebagai asrama untuk para pelajar suffah yang tinggal menetap untuk belajar.

Masjid ketika itu menjadi pusat pengembangan kebudayaan dalam semua aspek kehidupan menuju masyarakat beradab. Tidaklah mengherankan kalau pada masa selanjutnya masjid menjadi pusat berkembangnya ilmu-ilmu keislaman. Misalnya, universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir, yang terkenal itu, pada mulanya merupakan kegiatan belajar di Masjid Al-Azhar yang dibangun pada masa dinasti Fatimiyah.

Masjid Nabawi di Madinah dahulu berperan sebagai pusat kegiatan sosial. Masalah pernikahan, perceraian, perdamaian, dan penyelesaian sengketa masyarakat, semuanya diselesaikan di masjid. Orang-orang yang terluka dalam peperangan juga diobati di masjid. Di masjid pula Nabi memberi pengarahan dan instruksi kepada para tentara yang akan dikirim ke suatu tempat untuk berjihad dan di masjid pula para sahabat berlatih menghadapi peperangan.

Masjid adalah pusat kegiatan-legiatan ekonomi. Di masjid dibangun Baitul Mal tempat harta dari orang-orang kaya dihimpun kemudian didistribusikan kepada fakir miskin dan orang yang membutuhkan uluran dana maupun bahan makanan.

Syarat yang Harus Dipenuhi supaya Fungsi Masjid Bisa Kembali seperti Seharusnya

Setiap pengurus masjid harus mengetahui visi masjid sebenarnya, yakni visi kemakmuran. Pengurus masjid juga harus mampu menghubungkan kondisi sosial dan kebutuhan masyarakat dengan kegiatan masjid. Jamaah masjid perlu diperkuat agar peran pemberdayaan masyarakat bisa terpenuhi. Apabila ini terjadi, maka masjid bisa berkembang dalam segala hal.

Apabila masjid dituntut berfungsi membina umat, tentu sarana yang dimilikinya harus tepat, menyenangkan dan menarik semua umat, baik dewasa, kanak-kanak, tua, muda, pria, wanita, yang terpelajar maupun tidak, sehat atau sakit, serta kaya dan miskin.

Di dalam Muktamar Risalatul Masjid di Makkah pada 1975, hal ini telah didiskusikan dan disepakati, bahwa suatu masjid baru dapat dikatakan berperan secara baik apabila memiliki ruangan dan peralatan yang memadai untuk:
a. Ruang shalat yang memenuhi syarat-syarat kesehatan.
b. Ruang-ruang khusus wanita yang memungkinkan mereka keluar masuk tanpa bercampur dengan pria baik digunakan untuk shalat, maupun untuk Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK).
c. Ruang pertemuan dan perpustakaan, serta keterhubungan dengan jaringan internet.
d. Ruang poliklinik, dan ruang untuk memandikan dan mengkafankan mayat.
e. Ruang bermain, berolahraga, dan berlatih bagi remaja.

Bangunan masjid harus dilengkapi berbagai sarana dan prasarana seperti asrama, ruang-ruang kelas, perpustakaan, ruang tamu khusus, layanan kesehatan, konsultasi, dan lain-lain. Selain mengembalikan fungsi masjid seperti zaman Rasulullah, penambahan sarana dan fasilitas masjid juga bertujuan agar jamaah merasa nyaman selama di masjid. Semua hal di atas meskipun diwarnai oleh kesederhanaan fisik bangunan, namun tetap mampu menunjang fungsi masjid yang ideal.

Rambu-Rambu Aktivitas di Masjid

Sebuah masjid boleh berfungsi maksimal, namun tetap harus diperhatikan mengenai rambu-rambu yang harus diindahkan. Nabi melarang setiap muslim melakukan praktik jual beli di dalam masjid. Namun, aktivitas jual beli yang dilakukan di luar masjid dan tidak mengganggu ibadah shalat dibolehkan oleh para ulama berdasarkan firman Allah dalam surat al-Jumu’ah 10: ”Bila shalat (Jumat) telah selesai didirikan, maka bertebaranlah kamu di permukaan bumi ini, carilah karunia (rizki) Allah dan perbanyaklah mengingat Allah”.

Fungsi masjid tidak hanya sebatas tempat melakukan kegiatan ibadah maghdah saja, tetapi segala kegiatan yang menyangkut persoalan umat Islam dapat dilakukan di masjid, selama tidak untuk persoalan-persoalan yang telah jelas ada larangan dan telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Satu hal yang perlu mendapat perhatian, bahwa dalam sejarah kaum muslimin, perhatian yang lebih terhadap nilai-nilai arsitektur dan estetika suatu masjid sering ditandai dengan kedangkalan, kekurangan, bahkan kelumpuhannya dalam pemenuhan fungsi-fungsi masjid yang sesungguhnya. Seakan-akan nilai arsitektur dan estetika dijadikan kompensasi untuk menutup-nutupi kekurangan atau kelumpuhan tersebut.

Sebuah Penelitian tentang Fungsi Masjid

Aziz Muslim, seorang dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, meraih gelar doktor setelah meneliti fungsi lembaga masjid.

Ia melihat lembaga masjid dapat menjadi sarana efektif untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di lingkungan masjid apabila dikelola dengan baik. Pengelolaan yang baik meliputi hubungan kemitraan antara masjid, jamaah, dan masyarakat di lingkungan sekitar masjid baik. Sedang kemitraan yang dibangun mengarah pada hubungan yang mutualisme. Kuatnya kemitraan yang dibangun oleh masjid membuat masjid kian mandiri dalam memberdayakan ekonomi masyarakat.

Riset ini dilakukan di Masjid Jogokaryan, Nurul Jannah, dan Wahidiyah di Yogyakarta. Hasil riset ini dituangkan dalam disertasi berjudul “Model Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Miskin Perkotaan Berbasis Tanggungjawab Sosial Masjid.” Desertasi ini berhasil dipertahankan di hadapan tim penguji yang dipimpin Prof Dr Ravik Karsidi pada Sekolah Pascasarjana UIN Surakarta, di Surakarta. Proses pemberdayaan ekonomi masyarakat miskin yang dilakukan oleh Masjid Jogokaryan, Nurul Jannah, dan Wahidiyah dilakukan melalui empat aspek. Yaitu, pemberdayaan spiritual jamaah, penyadaran kewirausahaan, capacity building, dan pemberian daya.

Fakta Statistik Masjid di Indonesia

Saat ini, umat Islam di Indonesia memiliki lebih dari 900 ribu masjid. Bahkan, menurut Ketua Presidium Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Sugiharto, total tempat ibadah umat Islam itu jika ditambah dengan mushala dan langgar bisa mencapai 2 juta. Sayangnya, mayoritas masjid di Indonesia masih berfungsi sebagai tempat ibadah saja, atau masih sedikit jumlah masjid yang difungsikan sebagai pusat berbagai kegiatan kemasyarakatan.

Dengan potensi yang sangat besar tersebut, menjadi pekerjaan rumah umat Islam saat ini adalah mengembalikan fungsi masjid seperti pada zaman Nabi Muhammad saw yaitu menjadikan masjid sebagai pusat gravitasi perubahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *