Hidayah: Misteri Tuhan untuk Manusia

Hidayah merupakan –meminjam hak yang dimiliki oleh seorang presiden- hak prerogatif Allah. Manusia hanya bisa berusaha namun ketentuan tetaplah milik Allah. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah, termasuk masalah yang berkenaan dengan hidayah.

Hidayah (Arab: هداية, Hidayah) adalah kata Arab yang berarti “bimbingan”. Menurut keyakinan Islam, bimbingan telah disediakan oleh Allah bagi manusia terutama dalam bentuk Al-Qur’an. Tidak hanya melalui Al-Quran, tapi Hidayah, atau bimbingan, juga disediakan melalui Muhammad, dan bagaimana dia menjalani hidupnya, yang dikenal sebagai Sunnah Nabi. Melalui ajaran-ajarannya dan pedoman dalam Al-Quran, Muslim berharap untuk mencapai gaya hidup yang lebih baik.

Pada umumnya, orang akan merasa beruntung ketika hidup di lingkungan yang baik, sebaliknya, orang akan merasa tidak beruntung ketika hidup di lingkungan yang tidak baik.

Namun, ternyata tidak serta merta lingkungan yang baik akan berkorelasi menghasilkan warga yang baik juga, demikian juga sebaliknya.

Kisah tiga wanita yang tertera dalam Al-Quran memberikan kepada kita banyak pelajaran tentang hidayah. Di dalam kitab suci yang mulia ini, disebutkan dua orang wanita pendamping nabi Allah dan seorang wanita pendamping musuh nabi Allah. Ketiga wanita ini ternyata tidak mengikuti ‘aturan umum’ yang menyatakan bahwa ‘di mana seseorang tinggal, maka ia tidak akan jauh berbeda dari orang-orang di lingkungan itu’.

 

Istri Nabi Nuh dan istri Nabi Luth

Istri Nabi Nuh dan istri Nabi Luth diceritakan sebagai orang yang seharusnya sangat beruntung karena diberi karunia Allah sebagai pendamping rasul-Nya. Kalau kita fikir secara logika, tentu hal ini sangat sulit diterima oleh akal dan bisa dikategorikan sebagai anomali. Bagaimana mungkin istri-istri ini tidak sejalan dengan akidah suami mereka?

Seorang nabi dan rasul adalah manusia-manusia pilihan. Oleh karena itu, seorang rasul berkewajiban menyampaikan nilai-nilai kebaikan yang diterimanya dari Allah kepada lingkungannya.

Memang ada kalanya ia melakukan kesalahan. Namun harus diingat, bahwa Allah sangat dekat dengannya. Maka, seorang nabi dan rasul adalah orang yang secara langsung mendapatkan pengawasan dan bimbingan Allah. Jadi, ketika ia melakukan kesalahan, Allah lah yang paling segera menegur dan  mengingatkannya, sebelum orang lain yang paling dekat sekali pun melakukannya.

Kriteria nabi dan rasul

Dikatakan bahwa nabi dan rasul memiliki beberapa kriteria yang harus dipenuhi, di antaranya adalah:

  • Dipilih dan diangkat oleh Allah.
  • Mendapat mandat (wahyu) dari Allah.
  • Bersifat cerdas.
  • Dari umat bani Adam (manusia).
  • Nabi dan rasul adalah seorang pria.

Rasul (bahasa Arab: رسول Rasūl; Plural رسل Rusul) adalah seseorang yang mendapat wahyu dari Allah dengan suatu syari’at dan ia diperintahkan untuk menyampaikannya dan mengamalkannya. Setiap rasul pasti seorang nabi, namun tidak setiap nabi itu seorang rasul, dengan demikian, jumlah nabi jauh lebih banyak dibanding jumlah rasul.

Menurut syariat Islam jumlah rasul ada 312, sesuai dengan hadits yang telah disebutkan oleh Muhammad, yang diriwayatkan oleh At-Turmudzi.

Menurut Al-Qur’an Allah telah mengirimkan banyak nabi kepada umat manusia. Seorang rasul memiliki tingkatan lebih tinggi karena menjadi pimpinan ummat, sementara nabi tidak harus menjadi pimpinan. Di antara rasul yang memiliki julukan Ulul Azmi adalah Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad. Mereka dikatakan memiliki tingkatan tertinggi di kalangan rasul. Rasul yang terbanyak diutus oleh Allah adalah kepada Bani Israil, berawal dari Musa, berakhir pada Isa, dan di antara keduanya terdapat seribu nabi.

Nuh diutus untuk bani Rasib di wilayah Selatan Iraq.

Luth diutus untuk negeri Sadūm dan Amūrah di Syam, Palestina.

Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): “Masuklah ke dalam jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam)”.

 

Istri Firaun

Istri Firaun diceritakan sebagai orang yang seharusnya sangat tidak beruntung karena diberi ujian Allah sebagai pendamping musuh-Nya. Sekali lagi, kalau kita menggunakan akal dan logika kita, betapa hal ini sangat tidak masuk akal ketika seorang istri bisa selamat dari keburukan yang dilakukan suaminya?

Seberapa buruk seorang Firaun?

Hakikat Keberadaan  “Fir’aun, Haman dan Qarun” di Setiap Zaman Kenabian

Sebagaimana halnya Nabi Musa as, demikian juga tiap-tiap nabi Allah mempunyai Fir’aun, Haman dan Qarun-nya masing-masing. Ketika nama itu masing-masing melambangkan sifat kekuasaan (Fir’aun),  pejabat keagamaan  (Haman), dan kekayaan harta atau orang-orang kaya (Qarun). Tiga keburukan yang bisa ditemukan dalam ketiga nama itu adalah: Kekuasaan politik tanpa batas, golongan pejabat keagamaan yang berwatak suka menjilat, dan nafsu kapitalisme yang tidak terkendalikan. Tiga keburukan itu senantiasa menghambat dan menghentikan pertumbuhan politik, ekonomi, akhlak, dan ruhani suatu bangsa. Para Rasul senantiasa melancarkan perang sengit kepada ketiganya sepanjang zaman (QS 7: 35-37).

Haman itu gelar pendeta agung dewa Amon; “ham” di dalam bahasa Mesir berarti  “pendeta agung”. Dewa Amon menguasai semua dewa Mesir lainnya. Haman adalah kepala khazanah dan lumbung negeri, dan juga yang mengepalai lasykar-lasykar dan semua ahli pertukangan di Thebes. Namanya adalah Nubunnef, dan ia pendeta agung di bawah Rameses II dan putranya yang bernama Merenptah. Karena menjadi kepala organisasi kependetaan yang sangat kaya, merangkum semua pendeta di seluruh negeri, kekuasaannya dan wibawanya telah meningkat sedemikian rupa, sehingga ia menguasai suatu partai politik yang sangat berpengaruh, dan bahkan mempunyai suatu pasukan pribadi (“A story of Egypt” oleh James Henry Breasted, Ph.D).

Qarun adalah seorang orang kaya raya. Ia dihargai sekali oleh Fir’aun dan sangat mungkin ia bendaharanya. Agaknya ia pejabat yang mengawasi tambang-tambang emas milik Fir’aun dan seorang ahli dalam teknik penggalian emas dari tambang-tambang. Bagian selatan Mesir, wilayah Qaru, terkenal dengan tambang-tambang emasnya. Karena akhiran “an” atau “on” berarti “tiang,” atau “cahaya,” maka kata majemuknya “Qur-on” berarti “tiang Qaru” dan merupakan gelar menteri pertambangan. Konon ia seorang dari Bani Israil dan beriman kepada Nabi Musa a.s., tertapi untuk mengambil hati Fir’aun agaknya ia telah menganiaya bangsanya sendiri dan berlaku sombong terhadap mereka, sebagai akibatnya azab Allah Swt. menimpa dirinya dan ia binasa yakni ia dan tempat tinggalnya  serta seluruh harta kekayaan yang sangat dibanggakannya ditelan bumi (QS 28: 77-83).

Pendek kata, ketiga golongan orang-orang duniawi yang bekerjasama mengekalkan dominasi kemapanan mereka – yang dilambangkan oleh “Fir’aun, Haman, dan Qarun” – tersebut meyakini bahwa kemunculan para Rasul Allah akan sangat membahayakan kemapaman duniawi mereka.

Namun kenyataannya, berada di antara ketiga keburukan bahkan menjadi istri dari Firaun, tidak menyebabkan Siti Asiah kehilangan imannya. Hidayah telah menjadi cahaya yang menuntun jalannya bersikap terhadap lingkungan. Hingga pada akhirnya Firaun tenggelam di Laut Merah, Firaun tidak mampu mengubah keyakinan Siti Asiah untuk tetap dalam pangkuan Islam.

Itulah sebabnya di setiap zaman kenabian ketiga kekuatan tersebut bergabung untuk menghancurkan misi  suci para Rasul Allah  atau Khalifah Allah yang  diberi amanat oleh Allah Swt. untuk menciptakan “bumi baru dan langit baru” (QS 14: 49-53) guna akan menggantikan  “langit lama dan bumi lama” yang mereka  pertahankan karena telah terjadi kerusakan di seluruh kawasan “daratan dan lautan” (QS 30: 42).

Dan Allah membuat isteri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.

 

Semoga Allah Tidak Mencabut Hidayah Islam dari Hati Kita

Maka rasulullah saw mengajarkan sebuah doa:

Wahai Yang Maha Membolak-balik hati. Tetapkanlah hatiku pada agama-Mu dan ketaatan kepada-Mu. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim.

Doa ini sebagai wujud permohonan kita kepada Sang Pencipta hati-hati kita, supaya hidayah Islam yang sudah kita peluk dengan harga yang teramat mahal serta tidak terhingga ini tidak hilang dari hati kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *