Hijrah: Langkah Pertama untuk Berubah

tunas

Hijrah adalah perubahan paradigma. Pada masa Nabi, hijrah diwajibkan kecuali pada mereka yang memiliki keterbatasan. Mengapa dikecualikan, karena hijrah adalah sesuatu yang berat dilakukan dan syarat-syarat yang sangat ketat. Namun demikian, di balik hijrah terdapat keagungan dan imbalan yang besar, sebanding dengan tingkat kesulitannya.

”Barangsiapa berhijrah di jalan Alloh, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak.” [An-Nisa’: 100]

Hijrah adalah peristiwa penting dalam sejarah Islam. Meminjam istilah Lenin, hijrah merupakan one step backward, two steps forwards. Kita mundur selangkah ke belakang, untuk melakukan loncatan ke depan dua langkah. Atau meminjam istilah seorang sejarawan Inggris, Arnold Toynbee, hijrah adalah ”withdrawal and return”. Kita mundur untuk maju.

Bernard Lewis malah lebih jauh memberi makna pada kata hijrah. Dalam bukunya Political Language of Islam (1988:105), ia mengatakan: The hijra was turning point of the Muslim in the prophet’s mission, and was later adopted as the starting point of the Muslim era. Great stress was laid on its paradigmatic importance. When a Muslim land fell under non-Muslim rule, according to this school, it was a duty of its Muslim people to emulate the example of the prophet and make a hijra to another and better place, in God’s good time, they or their descendant would return to reconquere the lands which had been lost. “Peristiwa hijrah Nabi merupakan suatu ‘turning point umat Islam’ dalam dakwah sang Nabi dan yang kemudian diterima sebagai ‘starting point abad umat Islam’. Letak pentingnya hijrah karena sifatnya yang paradigmatis. Sesuai dengan sifatnya yang demikian, pandangan ini beranggapan bahwa jika suatu negeri Islam jatuh ke tangan kaum kafir, kaum Muslimin berkewajiban meniru contoh yang diajarkan Nabi, berhijrah ke tempat lain yang lebih baik, di mana pada saat yang telah ditentukan Tuhan di kemudian hari, mereka atau keturunannya mampu merebut dan menaklukkan kembali negeri yang telah dirampas itu.”

Banyaknya penolakan terhadap ajakan Nabi untuk berhijrah, sebagaimana juga tidak sedikit orang yang sulit keluar dari zona nyaman. Banyak orang yang merasa cukup dengan kondisinya sekarang, tanpa keinginan melakukan perubahan ke arah yang lebih baik di masa mendatang. Lebih banyak orang yang mencintai dirinya secara berlebihan sambil melupakan kepentingan masyarakat yang lebih luas. Mereka merasa berat untuk berpindah, seberat sulitnya mengubah paradigma usang yang sudah mendarah daging.

Biasanya akan banyak alasan yang dikemukakan oleh mereka yang tidak mau sadar terhadap kesalahan paradigma yang diyakininya. ”Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Makkah)”. Apa yang kami lakukan sudah menjadi tradisi dan demikian juga nenek moyang kami dulu konon juga melakukannya.

Mengapa kamu picik pandangan, padahal potensi berfikirmu diciptakan oleh Alloh sebagai yang paling sempurna di antara makhluk-Nya yang lain. Mengapa justru hawa nafsu yang kamu ikuti, padahal Alloh sudah menetapkan sebuah sistem yang menjaminmu bahagia di dunia dan akhirat yang seharusnya kamu ikuti. ”Bukankah bumi Alloh itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *