Homeschooling: sebuah Pendidikan Alternatif

homeschooling

Pendidikan telah berada pada dua titik ekstrem: Pertama, ketika negara kuat, maka pendidikan mengalami sentralisasi, seragam, tidak variatif, miskin improvisasi. Kedua, ketika negara lemah, maka pendidikan menjadi objek kapitalisasi swasta sehingga pendidikan tidak lagi murah dan tidak lagi egaliter. Maka, muncullah sistem pendidikan alternatif yang namanya homeschooling.

PENGERTIAN HOMESCHOOLING

Homeschooling berasal dari bahasa Inggris yaitu Home dan Schooling. Home berarti rumah dan Schooling berarti bersekolah. Jadi, homeschooling berarti bersekolah di rumah, maksudnya kegiatan yang biasanya dilakukan di sekolah dilakukan di rumah. Atau, rumah yang dijadikan tempat menuntut ilmu sebagaimana sebuah sekolah.

Homeschooling berarti memindahkan segala potensi yang ada di sekolah dibawa ke rumah. Hal ini dimaksudkan agar segala potensi yang ada dalam diri anak dapat dikembangkan dan diajarkan di rumah. Homeschooling sama dengan Home Education, yaitu pendidikan yang dilakukan secara mandiri oleh keluarga, di mana materi-materinya dipilih dan disesuaikan dengan kebutuhan anak.

Homeschooling adalah model alternatif belajar selain di sekolah. Tak ada sebuah definisi tunggal mengenai homeschooling. Selain homeschooling, ada istilah “home education”, atau “home-based learning” yang digunakan untuk maksud yang kurang lebih sama. Salah satu pengertian umum homeschooling adalah sebuah keluarga yang memilih untuk bertanggung jawab sendiri atas pendidikan anak-anak dan mendidik anaknya dengan berbasis rumah.

Pada sistem homeschooling, orang tua bertanggung jawab sepenuhnya atas proses pendidikan anak; sementara pada sekolah reguler tanggung jawab itu didelegasikan kepada guru dan sistem sekolah. Sesuai namanya, proses homeschooling memang berpusat di rumah. Tetapi, proses homeschooling umumnya tidak hanya mengambil lokasi di rumah. Para orang tua homeschooling dapat menggunakan sarana apa saja dan di mana saja untuk pendidikan homeschooling anaknya.

Homeschooling kadang masih melibatkan guru dengan serangkaian proses kegiatan formal pendidikan yang dilakukan di rumah. Tapi, homeschooling bukanlah kegiatan sekolah yang dipindah ke rumah karena orang tua atau keluarga tetap bertindak sebagai pihak yang paling bertanggung jawab dalam memilih sistem pendidikan seperti apa akan diterapkan kepada anak melalui perantaraan guru yang didatangkan.

Homeschooling dilakukan apabila seorang anak mengalami beberapa hambatan untuk bersekolah di institusi pendidikan pada umumnya seperti mengalami hambatan adaptasi dengan teman, terlalu lemah dalam proses pembelajaran, terlalu pandai, atau karena alasan kesibukan seperti para selebritis.

Lembaga homeschooling menyediakan guru pengajar yang datang ke rumah siswa untuk memberikan pembelajaran layaknya guru di sekolah pada umumnya. Perbedaan dengan sekolah umum, homeschooling lebih menitik beratkan pada perhatian individu. Jika di sekolah umum guru harus menghadapi lebih dari 30 siswa dalam satu kelas, maka dalam homeschooling hanya one on one atau satu lawan satu. Maka dari itu perhatian guru bisa tercurah kepada siswa. Lembaga seperti adalah lembaga formal yang biasanya juga mendapat legalitas dari pemerintah.

Apakah homeschooling sama dengan les privat? Tidak sama. Les privat adalah kegiatan untuk membantu siswa lebih mendalami materi di sekolah. Sedangkan homeschooling adalah proses belajar mengajar formal siswa sekolah yang dilakukan di rumah.

Jenjang di lembaga homeschooling bisa disesuaikan dengan jenjang sekolah pada umumnya. Siswa yang belajar di lembaga homeschooling pada akhirnya bisa mendapat ijazah setara dengan siswa yang belajar di sekolah umum.

BIAYA HOMESCHOOLING FLEKSIBEL

Hal pertama yang harus difahami, homeschooling bukan lembaga seperti halnya sekolah. Homeschooling adalah pendidikan berbasis keluarga. Jadi, homeschooling tak mendaftar ke mana-mana.

Karena homeschooling diselenggarakan oleh keluarga, maka biaya homeschooling adalah sejumlah yang dikeluarkan untuk keperluan pendidikan anak. Kalau anak menggunakan materi gratis di Internet, maka biayanya gratis (baca: hanya biaya koneksi Internet). Kalau mengundang tutor, bayar biaya tutor; ikut kursus, bayar biaya kursus; ikut bimbel, bayar biaya bimbel; ikut kegiatan, bayar biaya kegiatan. Prinsip untuk biaya homeschooling adalah pay-as-you-go, bayar sesuai pemakaian; tak ada biaya gedung dan bangunan.

Biaya homeschooling sangat fleksibel: bisa berbayar, tapi bisa juga sama sekali gratis. Apabila menggunakan materi gratis atau yang murah, biasanya konsekuensinya adalah butuh waktu lebih banyak untuk mempersiapkan, menstrukturkan, dan kreativitas. Kalau materi belajar yang digunakan adalah materi berbayar/berlangganan, biasanya materinya lebih terstruktur dan ada sistem pendukung, misalnya: laporan kegiatan anak. Materi berbayar seperti ini kadang-kadang bisa lebih mahal dibandingkan dengan biaya pendidikan sekolah umum.

Jadi, biaya homeschooling bisa mengikuti kondisi keuangan keluarga. Mau murah atau mahal, bisa disesuaikan. Dengan biaya berapapun yang dimiliki, keluarga bisa memaksimalkan manfaat atas dana yang diinvestasikan sekaligus bisa mengontrol pemakaiannya untuk sebesar-besar manfaat buat anak.

KURIKULUM & MATERI HOMESCHOOLING

Kurikulum adalah panduan untuk proses belajar anak. Sebagai awalan, saat kita hendak memulai homeschooling, jangan bayangkan kurikulum sebagai sesuatu yang sulit. Intinya, kurikulum itu panduan. Bagaimana isi kurikulumnya, itu tergantung model homeschooling yang dipilih.

Biasanya, model School at Home menggunakan kurikulum. Kalau menggunakan kurikulum, memang kita akan diajarkan step by step. Mulai dari menyusun materi, rencana kegiatan, sampai pelaksanaannya. Menggunakan kurikulum biasanya memang jadi lebih terstruktur.

Sedangkan unschooling umumnya tidak menggunakan kurikulum yang rumit. Seandainya pun ada, kurikulum itu sangat sederhana dan hasil kreasi orang tua sendiri. Kurikulum unschooling, seandainya ada, lebih mengacu pada minat anak. Anak sedang suka atau minat terhadap apa, maka hal itu yang harus diperkaya sumber dan referensinya. Dalam unschooling, orang tua dituntut untuk peka.

Mau memilih model yang mana tidak menjadi masalah. Tapi setiap pilihan pasti punya konsekuensi. Yang patut dicatat, sebagai pelaku homeschooling, kita harus punya gambaran besar lebih dulu. Anak kita mau diapakan, diarahkan ke mana, mau dibentuk seperti apa, baru pilih kurikulumnya. Keluarga homeschooling memiliki kebebasan dalam memilih kurikulum atau tanpa kurikulum, tinggal disesuaikan saja dengan kondisi anak dan keluarga.

Ada beberapa kurikulum yang bisa dipilih. Ada kurikulum nasional dari Kementerian Pendidikan Nasional, kurikulum Cambridge, atau kurikulum internasional yang lain. Kita bisa mencarinya di Google dengan kata kunci: homeschool curriculum.

Lalu bagaimana jika ingin membuat kurikulum homeschool sendiri? Tentukan bidang utama yang ingin jadi konsentrasi belajar. Lalu dilanjutkan dengan bidang lain sesuai bobot minat anak. Misalnya: anak berminat pada aktivitas melukis, membaca, main sepakbola. Tulis semuanya. Selain bidang minat dan potensi, pelajaran akademis juga dimasukkan, seperti matematika, bahasa, sains, dan lain-lain. Namun, tetap prioritas pada minat. Lalu perinci tiap bidang tersebut dengan tahapan-tahapan kemampuan yang ingin dicapai. Tahapan dari yang paling mudah dicapai hingga yang paling sulit. Berikutnya, rencanakan aktivitas yang bisa dilakukan untuk mencapai tiap tahapan tadi. Buat perencanaan yang masuk akal dan bisa direalisasikan. Apabila tanpa perencanaan, maka akan sulit melakukannya dan target pun tidak bisa dicapai. Belajar harus tetap ada target: keberhasilan maupun waktu. Walau begitu target bisa diatur sesuai kecepatan belajar anak.

“Mengapa sebaiknya pakai kurikulum?” Tentu keluarga homeschooling bebas mau pakai kurikulum/tidak. Kurikulum hanya alat bantu untuk merencanakan belajar. Akan tetapi jangan pula terlalu ekstrem dengan menyerahkan kurikulum sepenuhnya kepada kehendak anak. Selain anak sendiri, orang tua adalah pihak yang juga relatif cukup memahami potensi dan kemampuan anak sekaligus memiliki pengalaman dan pengetahuan yang cukup dalam rangka mengarahkan anak.

pro con

KERUGIAN HOMESCHOOLING

Fenomena berikut ini kurang pas bila dimaknai sebagai kerugian homeschooling, karena kerugian adalah sesuatu yang niscaya terjadi. Pada praktik homeschooling, keberatan-keberatan berikut ini umum terjadi, akan tetapi bukan tanpa pemecahan sama sekali. Beberapa keberatan berikut solusinya antara lain:
1. Orang tua biasanya bukan guru profesional, sehingga memiliki keterbatasan dalam mengajarkan suatu disiplin ilmu atau keahlian.
Orang tua tidak harus selalu menjadi guru. Orang tua dan anak bisa saling belajar bersama. Atau, mendatangkan guru bisa menjadi solusi.
2. Orang tua tidak memiliki bahan belajar yang tersusun dalam sistematika pembelajaran yang rapi.
Sistematika bahan belajar yang baik dan terstruktur saat ini sangat mudah didapatkan di internet. Orang tua bisa mencari mana yang paling sesuai diterapkan untuk anaknya.
3. Anak-anak tidak bisa bersosialisasi karena tidak bergaul dengan anak-anak sebayanya di sekolah.
Sekolah di rumah tidak berarti sang anak harus dikurung di rumah, dan anak tetap bisa bebas bermain dengan tetangga atau komunitas teman-teman sebaya sesama peserta homeschooling.

KEUNTUNGAN HOMESCHOOLING

Meskipun sistem homeschooling masih menimbulkan pro dan kontra, setidaknya beberapa keuntungan yang potensial sudah bisa diperkirakan, di antaranya:
1. Homeschooling mengakomodasi potensi kecerdasan anak secara maksimal karena setiap anak memiliki keberagaman dan kekhasan minat, bakat, dan ketrampilan. Di sekolah umum, potensi setiap anak dianggap sama dan seragam.
2. Homeschooling memungkinkan pentargetan hasil belajar yang sangat spesifik dan khusus. Seorang anak yang sangat antusias dan menikmati olahraga tidak akan ditargetkan meraih prestasi yang berlebihan untuk seni, misalnya.
3. Homeschooling mampu menghindarkan anak dari pengaruh negatif yang mungkin dihadapi di lingkungan sekolah umum karena pengawasan yang lebih intensif dan bekal spiritual yang lebih berkualitas dari orang tua, seperti: pergaulan bebas, tawuran, rokok, dan obat-obatan terlarang.

homeschooling2

BELAJAR APA SAJA, KAPAN SAJA, DI MANA SAJA

Homeschooling tidak serta-merta menggantikan pendidikan anak menjadi di rumah bagi mereka yang memilihnya atau mereka yang putus sekolah. Kadang-kadang justru anak-anak yang sedang sekolah biasa (formal) di SD, SMP, atau SMA pada saat yang bersamaan ia juga mengikuti homeschooling. Ada beberapa tujuan: ingin segera naik kelas, ingin segera lulus ujian negara, atau ingin mendapatkan keahlian lain yang tidak diajarkan di sekolah.

Barangkali faham sekolah rumah ini terlihat sedikit nyeleneh karena sementara semua orang menyekolahkan anaknya di sekolah umum, justru kita menyekolahkan anak di rumah. Bukankah itu sama saja dengan tidak sekolah. Pemikiran seperti ini terjadi karena ada sebuah proses ahistoris (terpotong dari sejarah) yang melupakan bahwa dulu sekolah memang dimulai dari rumah. Baru kemudian setelah guru menjadi sebuah profesi tertentu, sekolah mulai berpindah ke gedung-gedung yang dinamakan sekolah.

Pada dasarnya, tidak ada kewajiban manusia untuk sekolah. Yang ada, kewajiban yang dibebankan kepada setiap anak cucu Adam adalah belajar. Dahulu sebelum ada institusi sekolah manusia sudah melakukan kegiatan belajar, pada zaman sekarang manusia bisa belajar di sekolah, maka ketika di masa depan institusi sekolah makin tidak substansial, maka apa yang salah dengan homeschooling?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *