Belajar dari Kudeta Turki dan Mesir

reformasi 1998 suaranews_com
suaranews.com

Setiap negara pasti memiliki mekanisme pergantian rezim yang berbeda-beda. Negara seperti Indonesia, menganut sistem presidensial, di mana terdapat sebuah mekanisme pergantian rezim yang dilakukan setiap lima tahun sekali melalui pemilihan presiden dan wakil presiden (pilpres). Jabatan presiden di Indonesia maksimal bisa dijabat selama dua periode. UUD 1945 telah mengaturnya.

Hal ini sesuai dengan Pasal 7 UUD 1945 Perubahan Keempat. “Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatan selama lima tahun, dan sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama, hanya untuk satu kali masa jabatan.”

Adapun, ketika terjadi kejadian yang di luar kebiasaan seperti pergantian rezim di tengah masa jabatan, juga diatur dalam konstitusi. Berdasarkan konstitusi yang berlaku di Indonesia, mengacu Pasal 7A Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 disebutkan bahwa impeachment bisa dilakukan terhadap presiden dan/atau wakil presiden saja.

“Presiden dan/atau Wakil Presiden dapat diberhentikan dalam masa jabatannya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat atas usul Dewan Perwakilan Rakyat, baik apabila terbukti telah melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya, atau perbuatan tercela maupun apabila terbukti tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden”.

Masih mengacu ketentuan UUD 1945 di atas, DPR masih harus menguji usulannya melalui sidang di Mahkamah Konstitusi (MK). Jika MK mengabulkan, kemudian DPR mengusulkan pemberhentian yang dikabulkan MK ke sidang MPR dengan syarat minimal dihadiri 3/4 jumlah anggota dan disetujui sekurang-kurangnya 2/3 anggota yang hadir.

Dalam konstitusi Indonesia juga mengatur jika presiden mundur, mangkat atau tidak bisa menjalankan tugasnya, kemudian dilaksanakan oleh wakil presiden.
Aturan ini tertuang dalam Pasal 8 menyebutkan, “Jika presiden mangkat, berhenti, diberhentikan, atau tidak dapat melakukan kewajibannya dalam masa jabatannya, dia digantikan oleh wakil presiden sampai habis masa jabatannya”.

Artinya, apa yang tercantum di dalam konstitusi diharapkan sudah bisa mengatur segala permasalahan pergantian rezim tanpa harus melalui pergolakan yang tidak perlu. Pergantian rezim sebagaimana contoh di atas adalah mengacu yang bisa terjadi di Indonesia selama mengacu kepada ketentuan sesuai dengan aturan main yang baku, yaitu sebuah pergantian rezim yang berlangsung normal karena berakhirnya masa jabatan presiden.

Namun demikian, tidak bisa dinafikan, kejadian di luar yang diperkirakan tidak ditutup kemungkinan bisa terjadi juga. Kejadian yang seperti pastilah kejadian yang tidak sesuai konstitusi, oleh sebab itu disebut sebagai kejadian yang ‘inkonstitusional’, sehingga pergantian rezim tidak lagi mengindahkan aturan main yang telah dibuat, bahkan kekuasaan baru yang terbentuk nantinya bisa mengabaikan aturan main yang sudah disepakati sebelumnya.

Pergantian rezim yang dilakukan secara inkonstitusional bisa terjadi karena berbagai cara dan latar belakang. Namun, biasanya pergantian seperti ini selalu didasari adanya konflik yang terjadi di antara para elite. Tidak jarang pergantian rezim dilakukan secara paksa, salah satunya yang paling umum adalah dengan keterlibatan kekuatan militer, atau bisa juga dengan people power.

Pergantian rezim semacam ini dinamakan dengan kudeta.

Kudeta berasal dari bahasa Perancis coup d’État, atau disingkat coup, berarti merobohkan legitimasi atau pukulan terhadap negara adalah sebuah tindakan pembalikan kekuasaan terhadap seseorang yang berwenang dengan cara ilegal dan sering kali bersifat brutal, inkonstitusional berupa “penggambilalihan kekuasaan”, “penggulingan kekuasaan” sebuah pemerintahan negara dengan menyerang (strategis, taktis, politis) legitimasi pemerintahan kemudian bermaksud untuk menerima penyerahan kekuasaan dari pemerintahan yang digulingkan. Kudeta akan sukses bila terlebih dahulu dapat melakukan konsolidasi dalam membangun adanya legitimasi sebagai persetujuan dari rakyat serta telah mendapat dukungan atau partisipasi dari pihak non-militer dan militer (tentara).

 

Target Melakukan Kudeta

Kudeta dilakukan dengan tujuan utama untuk mengambil alih kekuasaan. Demi keberhasilan sebuah kudeta, terdapat beberapa hal penting yang biasanya menjadi target penguasaan, karena dengan dikuasainya beberapa hal ini sebagai prasyarat menuju tingkat keberhasilan kudeta yang lebih tinggi.

Studi kasus di bawah ini berkenaan dengan kudeta yang terjadi di Mesir tahun 2013 dan di Turki tahun 2016. Beberapa hal terpenting tersebut adalah:

 

Pemimpin Tertinggi Negara

mursi dan erdogan harakahdaily_net
harakahdaily.net

Pemimpin tertinggi suatu negara adalah yang paling utama dibidik. Selain sebagai pembuat keputusan tertinggi sebuah negara, mereka juga merupakan simbol negara. Apabila pemimpin tertinggi sudah dikuasai maka kendali pemerintahan bisa diambil alih. Dalam kasus reformasi Indonesia tahun 1998, Suharto adalah fokus bidikan. Kudeta Mesir tahun 2013 membidik Presiden Muhammad Mursi. Kudeta Turki 2016 membidik Presiden Recep Tayyib Erdogan.

Dalam kudeta Mesir misalnya, setelah terjadi demonstrasi besar menentang Presiden Mesir Mohamed Morsi, Menteri Pertahanan Jenderal Abdul Fatah al-Sisi pada 3 Juli 2013 mengumumkan pelengseran presiden, dan penangguhan konstitusi. Al-Sisi mengangkat Adly Mansour sebagai pemegang jabatan sementara Presiden Mesir. Morsi berada dalam status tahanan rumah dan para pimpinan Ikhwanul Muslimin ditangkap.

Pada malam 3 Juli 2013 saat Kepala Staf Militer Mesir Jendral Abdel Fatah al-Sisi membekukan konstitusi dan meluncurkan sebuah kudeta militer berdarah yang menggulingkan satu-satunya presiden yang terpilih secara demokratis, Mohamed Morsi.

 

Ibukota Negara

simbol vital negara portalpiyungan_com
portalpiyungan.com

Pendudukan atas ibukota negara atau pun kota besar dari suatu negara menjadi satu hal yang wajib dilakukan. Tidak bisa dipungkiri bahwa segala aktivitas penting kenegaraan berlangsung di ibukota. Istana Presiden dan Gedung Parlemen pasti terletak di sana. Maka tidak heran bila kota utama yang ditargetkan di Indonesia adalah Jakarta. Kota tertarget di Mesir adalah Kairo. Dan, kota tertarget di Turki adalah Ankara dan Istambul.

Di ibukota negara atau di kota besar juga pada umumnya terdapat berbagai sarana vital yang lain. Dalam kudeta Turki tahun 2016, faksi militer yang melakukan kudeta mengirim tank ke jalanan Istambul dan Ankara, memblokade jembatan, menangkapi petinggi militer, merebut televisi nasional, serta melakukan serangan terkoordinasi ke kantor kepolisian dan markas keamanan.  Sarana vital sekaligus simbol-simbol negara sekaligus berfungsi sebagai tempat-tempat simbolis kekuasaan pemimpin negara, sehingga menguasainya berarti menguasai sebuah negara.

 

Demonstrasi

demonstrasi cnnindonesia_com
cnnindonesia.com

Pada 30 Juni 2013, pada peringatan tahun pertama terpilihnya Morsi, ribuan protestan dari penjuru Mesir berdemonstrasi di jalan menuntut pengunduran diri presiden. Alasan dari tuntutan tersebut termasuk tuduhan bahwa sang presiden semakin otoriter dan menjalankan agama Islam tanpa mempertimpangkan kepentingan pihak oposisi sekuler.

Saat kudeta Mesir 2013, baik saluran-saluran televisi Mesir yang paling professional sampai media-media konyol bersekongkol untuk mengarang/merekayasa berbagai berita dan kejadian, yang kemudian hari terbukti direkayasa, menggunakan segala macam trik untuk meningkatkan/memperkuat jumlah pengunjuk rasa terhadap Morsi. Demonstrasi yang sebelumnya damai menjadi penuh kekerasan saat lima penentang Morsi terbunuh dalam bentrokan terpisah dan penembakan. Di saat yang sama, pendukung Morsi melangsungkan demonstrasi di kota Nasr, salah satu distrik di Kairo. Pada pagi hari 1 Juli, penentang Morsi meringsek ke markas Ikhwanul Muslimin di Kairo.

Pada kudeta di Turki, Erdogan menyapa bangsanya melalui CNN Turk dalam sebuah panggilan video telepon yang benar-benar mengubah jalannya peristiwa. Awalnya rakyat dihimbau oleh pihak pengkudeta untuk tidak turun ke jalan karena situasi yang diciptakan begitu genting.  Untuk mengalahkan kudeta ini, sang presiden Turki menggunakan iPhone-nya. Masjid-masjid menggunakan loudspeaker mereka, menyiarkan panggilan shalat sebelum subuh. Para pemimpin poltik dari segala latar belakang, beberapa merupakan lawan sang Presiden, secara jelas menyerukan kudeta tersebut untuk dipatahkan. Para polisi menahan para tentara. Orang-orang tak bersenjata mengambil kembali CNN Turk dan berbagai jembatan di Bosporus, berani menghadapi tembakan senjata api demi mengambil kembali demokrasi demi Negara mereka.

 

Militer sebagai Pemain

A military aims his weapon on top of a tank during an attempted coup in Ankara, Turkey July 16, 2016.  REUTERS/Stringer ATTENTION EDITORS - THIS IMAGE WAS PROVIDED BY A THIRD PARTY. EDITORIAL USE ONLY. NO RESALES. NO ARCHIVES. TURKEY OUT. NO COMMERCIAL OR EDITORIAL SALES IN TURKEY.     TPX IMAGES OF THE DAY
A military aims his weapon on top of a tank during an attempted coup in Ankara, Turkey July 16, 2016. REUTERS/Stringer ATTENTION EDITORS – THIS IMAGE WAS PROVIDED BY A THIRD PARTY. EDITORIAL USE ONLY. NO RESALES. NO ARCHIVES. TURKEY OUT. NO COMMERCIAL OR EDITORIAL SALES IN TURKEY.

Militer sebagai pemain tidak selalu diartikan bahwa pelaku kudeta adalah militer. Bisa juga, militer justru bertindak sebagai pencegah kudeta demi mengamankan rezim yang sedang berkuasa. Baik Mesir dan Turki kudeta dilakukan oleh militer. Indonesia dilakukan oleh rakyat, sementara militer awalnya bertindak represif sebagai pembela rezim, namun pada akhirnya karena kekuatan rakyat terlalu besar maka militer lah yang mengikuti kehendak rakyat.

Saat kudeta Mesir, militer berhasil menguasai TV pemerintah dengan lapisan kendaraan lapis baja. Dalam kudeta Turki, militer menguasai dua Bandara dan menutup yang ketiga. Mereka mencoba untuk memisahkan sisi Eropa Istanbul dari sisi Asia-nya. Mereka mengebom parlemen di Ankara sembilan kali. Kontak senjata terjadi di luar markas Badan Intelijen Turki (MIT). Mereka juga menguasai televisi pemerintah. Mereka mengerahkan tank, helikopter bersenjata dan jet-jet F-16.

Alasan militer hampir selalu terlibat di dalam sebuah kudeta adalah karena mereka yang memiliki kemampuan untuk peberlakuan status darurat untuk menguasai semua objek vital negara dan mendapat dukungan dari rakyat dengan melakukan propaganda media. Kemudian diikuti dengan pemecatan semua loyalis pemerintah yang dikudeta dan menyeret mereka ke Pengadilan Militer.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *