Memilih Pemimpin

pemimpin

Pemimpin kadang muncul tanpa direncanakan meskipun tidak sedikit juga yang melalui jalur pengkaderan yang ketat. Pemimpin bisa siapa saja. Pemimpin bisa dari mana saja. Ia bisa saja tiba-tiba muncul dari riuh masyarakat yang menginginkan perubahan, atau bisa juga ia termasuk orang yang sudah dikenal baik di komunitasnya. Satu yang terpilih di antara sekian banyak manusia di sebuah masyarakat.

Kepemimpinan identik dengan perubahan. Mengapa perubahan? Baik buruk masyarakat tergantung dari seberapa besar perubahan yang dilakukannya. Karena apabila ada dan tiadanya seorang pemimpin keadaannya sama saja, maka untuk apa ada seorang pemimpin.

 

Membekali Diri dengan Ilmu: Pemimpin Ideal itu Pintar

johncmaxwell

Salah satu kriteria wajib menjadi pemimpin adalah memiliki ilmu kepemimpinan yang cukup untuk memerankan diri sebagai sebenar-benar pemimpin. Ilmu yang dimaksud ini bukan untuk kamuflase supaya seseorang kelihatan sebagai pemimpin. Bukan pula untuk menjadi pemimpin-pemimpinan dan bukan pula seakan-akan pemimpin, lebih-lebih pemimpin jadi-jadian.

Dengan memiliki ilmu yang diperlukan, ia bisa berbicara, bertindak, dan berlaku sebagai pemimpin. Dengan ilmu ini pula ia bisa berfikir, merencanakan, mempertimbangkan, dan pada akhirnya mengambil keputusan. Keputusan yang diambil dari pemikiran yang berdasarkan ilmu yang benar memiliki kualitas yang jauh lebih baik daripada keputusan asal-asalan, keterpaksaan, apalagi tebakan. Itulah pentingnya ilmu bagi seorang pemimpin.

Ilmu bisa didapatkan dengan cara belajar yang benar dan melewati sebuah sistem pendidikan yang baik demi mendapatkan hasil yang baik pula. Pendidikan tidak selalu harus melalui sekolah formal, karena pendidikan tidak selamanya ada dan hanya tersedia di bangku sekolah. Dalam kehidupan ini, mencukupkan diri hanya dari pendidikan dari sekolah formal adalah sesuatu yang sudah terlalu absurd. Terlalu naïf membangga-banggakan sejumput ilmu dengan gelar yang hanya dari bangku sekolah dengan melupakan ilmu tentang kehidupan.

Rasulullah saw bersabda: Barang siapa telah menyerahkan sebuah jabatan atau amanat kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya.

Jadi, pemimpin itu tidak harus berharta dan kaya raya, tidak harus rupawan dan kharismatik, dan juga tidak harus keturunan ningrat atau anak pejabat. Yang paling penting, pemimpin harus berilmu. Dengan ilmunya ia menjadi ahli. Andaipun di luar itu ternyata ia juga kaya, tampan, dan darah biru, itu akan menambah kepantasan dan kepatutannya menjadi seorang pemimpin.

 

Mencukupkan Diri dengan Ilmu: Pemilih yang Ideal itu (juga) Pintar

lead learn

Bekal ilmu sangat penting untuk seorang pemimpin. Bagaimana dengan para pemilihnya?

Sesungguhnya tidak berbeda keadaannya, hanya saja konteksnya agak berbeda. Keduanya memiliki tugas yang penting demi kelangsungan hidup bangsanya. Pemimpin butuh ilmu untuk menuntun arah kepemimpinannya. Sementara itu, rakyat butuh ilmu untuk mampu menentukan pemimpin yang tertuntun arah kepemimpinannya.

Dalam tataran ideal, ada empat skenario dalam pemilihan pemimpin.

Pertama. Pemimpin tidak berilmu dan rakyatnya tidak berilmu juga. Pemilihan dalam kondisi seperti ini pasti menghasilkan kesalahan memilih. Rakyat yang tidak berilmu kurang bisa memilih pemimpin yang berilmu.

Kedua. Pemimpin tidak berilmu tapi rakyatnya berilmu. Kondisi ini sebenarnya hampir mustahil. Tapi seandainya dipaksakan terjadi pun, pemimpin seperti kasus ini tidak akan pernah terpilih.

Ketiga. Pemimpin berilmu tapi rakyatnya tidak berilmu. Kondisi ini tidak akan menghasilkan pemimpin yang benar. Rakyat salah pilih sangat mungkin. Tanpa ilmu yang memadai, yang terpilih pasti bukan pemimpin yang tepat.

Keempat. Pemimpin dan rakyatnya sama-sama berilmu. Ini kondisi paling ideal. Rakyat tahu mana yang harus dipilihnya. Pemimpinnya pun tahu bagaimana menerima amanah dan menjalankannya dengan benar.

 

Pemilih yang Kurang Memenuhi Syarat

Dalam memilih pemimpin, rakyat seharusnya berfikir lebih dulu. Jangan sampai, di kemudian hari ternyata ia menyesal karena telah salah menentukan pilihan. Karena, setiap pemimpin hasil pilihan yang salah, ujung-ujungnya justru menjauhkan rakyat dari kesejahteraan. Yang rugi tidak hanya rakyat yang telah salah pilih, tapi semua rakyat merasakan kerugian itu tanpa kecuali.

Ada dua kemungkinan pemimpin yang salah pilih ini, yang pertama karena ia tidak mampu memberikan kesejahteraan untuk rakyatnya, yang kedua karena ia tidak mau memberikan kesejahteraan untuk rakyatnya. Idealnya, seorang pemimpin mampu dan mau bekerja keras untuk kesejahteraan rakyatnya.

Bagaimana caranya rakyat benar dalam menentukan pilihan dan tidak melakukan kesalahan yang akan merugikan dirinya dan masyarakatnya? Tidak ada acara lain: rakyat juga harus pintar! Rakyat tidak boleh kalah pintar!

Ada beberapa tingkatan kemampuan rakyat dalam memilih calon pemimpinnya. Berikut ini akan diuraikan satu per satu supaya bisa menjadi bahan renungan:

  1. Pemilih yang tidak tahu menahu apa dan siapa yang akan dipilihnya.

Pemilih tipe seperti ini memiliki kekurangan data calon pemimpin yang akan dipilih. Ia tidak mau atau malas mencarinya. Ia kurang dari sisi informasi tentang calon pemimpinnya. Akhirnya, pemilih seperti ini tidak akan menyesal siapapun yang terpilih menjadi pemimpinnya. Mereka termasuk orang yang tidak memiliki kepedulian apapun bahkan tidak peduli kepada dirinya sendiri, ia tidak peduli akan dipimpin oleh siapa.

  1. Pemilih yang terpaksa atau dipaksa dalam memilih.

Pemilih tipe ini sudah lebih mengetahui calon pemimpinnya. Akan tetapi ia tidak cukup kokoh terhadap pilihannya karena ada kepentingan yang lebih menarik baginya, misalnya iming-iming politik uang atau ikut-ikutan. Pemilih seperti ini barangkali akan menyesal ketika pilihannya salah karena berarti telah turut serta menyengsarakan orang lain. Mereka sudah memiliki kepedulian, paling tidak kepada diri mereka sendiri, namun tidak cukup peduli kepada orang lain dan kepentingan bersama.

  1. Pemilih yang tertipu atau terbuai dalam memilih.

Pemilih tipe ini tahu pada calon pemimpinnya, tapi dari sumber yang salah, sumber yang kabur, atau sumber yang penuh kamuflase tipuan. Ia bisa sangat yakin akan pilihannya, tidak mempan disuap, bahkan bisa sangat militan. Pada akhirnya, pemilih seperti ini akan menyesal karena tidak cukup banyak belajar dan menganalisis, terlalu gampang percaya pada pencitraan tanpa menggali lebih dalam. Ia melihat dari kacamata yang salah. Mereka adalah orang yang peduli pada dirinya dan orang lain.

Demikian beberapa tipe pemilih kurang ilmu yang dipaksakan tetap memiliki hak untuk memilih. Bagaimana mengharapkan hasil yang baik, sementara syarat-syaratnya tidak dipenuhi. Sekali lagi, untuk menghindari kejadian seperti di atas salah satu syarat yang harus dipenuhi: pemilih juga orang yang pintar!

 

Yang Dipilih dan Yang Memilih: Sebuah Keseimbangan

Abu Said (Abdurrahman) bin Samurah ra, berkata: Rasulullah saw telah bersabda kepada saya: Ya, Abdurrahman bin Samurah, jangan menuntut kedudukan dalam pemerintahan, karena jika kau diserahi jabatan tanpa minta, kau akan dibantu oleh Allah untuk melaksanakannya, tetapi jika kau dapat jabatan itu karena permintaanmu, maka akan diserahkan ke atas bahumu atau kebijaksanaanmu sendiri. [Bukhari-Muslim]

Yang memilih tahu caranya memberikan amanah, yang dipilih tahu bagaimana caranya menerima amanah dengan penuh rasa tanggung jawab. Jadi, amanah itu tidak perlu dicari dan ketika amanah itu datang, maka pemimpin yang baik tidak akan pernah lari.

Untuk menjadi calon pemimpin yang baik dibebani syarat-syarat tertentu, mengapa untuk menjadi pemilih yang baik tidak diterapkan hal yang sama?

Banyak calon pemimpin yang harus gagal melaju dalam pemilihan karena tidak memenuhi syarat, akan tetapi mengapa semua orang tanpa kecuali berhak menjadi pemilih meskipun banyak di antara mereka yang sebenarnya tidak layak namun tidak ada yang digugurkan hak pilihnya?

Ingat, baik pemimpin maupun pemilih adalah orang-orang yang sedang ber-ijtihad. Ijtihad itu mengerahkan segenap kemampuan untuk berfikir yang terbaik untuk kebaikan bangsanya. Ijtihad itu berjuang, bukan main-main.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *