13 Fakta Unik yang Berkenaan dengan Perangko

Perangko adalah secarik kertas berperekat sebagai bukti telah melakukan pembayaran atas suatu jasa layanan pos, seperti halnya mengirim surat. Perangko ditempelkan pada amplop, kartu pos, atau benda pos lainnya sebelum dikirim. Pembayaran menggunakan perangko menjadi cara pembayaran yang paling populer dibanding cara yang lain.

Perangko pada hakikatnya adalah secarik kertas bergambar yang diterbitkan oleh pemerintah yang pada bagian belakang umumnya mengandung perekat, sedangkan pada bagian depannya memuat suatu harga tertentu. Dengan menempelkan perangko pada sepucuk surat berarti biaya pengiriman surat tersebut telah dilunasi oleh pengirim surat, dan sebagai imbalannya pos berkewajiban menyampaikan surat tersebut kepada alamatnya di tempat tujuan.

Kegiatan surat-menyurat dan sistem perposan sebenarnya sudah dikenal manusia sebelum dikenalnya perangko. Setiap pemerintahan membangun sarana dan prasarana untuk menunjang kegiatan sistem perposan demi kelancaran pertukaran informasi di antara warganya. Sebagai contoh, Jalan Raya Anyer-Panarukan yang dibangun oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda (Herman Willem Daendels), dikenal dengan nama Jalan Raya Pos.

Saat ini, walau secara volume permintaan mengalami penurunan, PT Pos masih mencetak perangko sebagai salah satu sumber pendapatan. Selain terpaan teknologi, jumlah filateli (pengoleksi perangko) mengalami penurunan. Komunitas Filateli Indonesia mengungkapkan, saat ini ada sekitar 1.500 filateli, mengalami penurunan yang sangat signifikan dibandingkan tahun 1989 yang jumlahnya masih bisa mencapai satu juta filateli. Semula, perangko digunakan untuk mengirim surat dan barang. Kini perannya sudah semakin kecil karena makin tergantikan oleh email dan layanan kurir yang mulai menjamur di Indonesia.

 

1  Perangko Pertama di Dunia

Perangko pertama yang merupakan hasil gagasan Sir Rowland Hill diterbitkan di Inggris pada tanggal 6 Mei 1840, dan merupakan perangko pertama yang resmi di dunia. Sebelum tanggal tersebut sudah ada perangko tetapi tidak resmi, tidak dapat dipakai oleh masyarakat umum, tetapi hanya oleh kaum bangsawan tertentu. Perangko pertama resmi memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

  • Memuat gambar kepala Ratu Victoria.
  • Dicetak dalam warna hitam.
  • Memuat kata postage pada bagian atasnya.
  • Memuat kata-kata one penny pada bagian bawahnya.

Mengingat warna tintanya hitam serta tulisan one penny yang menunjukkan harga nominalnya, perangko tersebut kemudian dikenal oleh masyarakat luas dengan julukan The Penny Black.

 

2  Perangko Pertama di Indonesia

Pada tanggal 1 April 1864, pemerintah Hindia Belanda yang waktu itu menguasai seluruh Nusantara menerbitkan perangko untuk pertama kali. Perangko Hindia Belanda yang baru lahir itu berwarna merah anggur dengan harga nominal 10 sen dan menampilkan gambar Raja Willem III.

 

3  Sejarah Perangko

Kisah timbulnya gagasan untuk menerbitkan perangko oleh Sir Rowland Hill ternyata cukup menarik. Suatu ketika ia melihat seorang pengantar pos menyerahkan sepucuk surat kepada seorang gadis. Sejenak setelah mengamati surat itu dengan teliti, gadis itu pun segera mengembalikan surat itu kepada pengantar pos dan menolak melunasi biaya pengiriman surat dengan alasan bahwa ia tidak punya uang.

Sir Rowland Hill mendekati gadis seraya bertanya apa sebab ia menolak menerima surat tersebut. Jawaban gadis tersebut sungguh mengejutkan. Surat yang ternyata datang dari kekasihnya itu memuat beberapa tanda/kode yang hanya diketahui oleh mereka berdua. Tanpa harus membuka surat itu pun gadis tersebut telah tahu apa sebenarnya maksud/isi surat itu. Jadi, buat apa ia harus susah-susah membayar ongkos kirim surat.

 

4  Jenis Perangko

Terdapat beberapa jenis perangko, yaitu:

  1. Perangko definitif: perangko yang penerbitannya dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan perangko sehari-hari, tidak ada kaitannya dengan suatu kejadian atau peristiwa.
  2. Perangko peringatan: perangko yang penerbitannya dikaitkan dengan suatu kejadian atau peristiwa dan dimaksudkan untuk memperingati kejadian atau peristiwa, baik yang bersifat nasional maupun internasional.
  3. Perangko istimewa: perangko yang penerbitannya dimaksudkan untuk menarik perhatian masyarakat baik di dalam maupun di luar negeri mengenai kegiatan-kegiatan yang dilancarkan oleh Pemerintah dalam berbagai bidang, baik yang bersifat nasional maupun internasional.
  4. Perangko amal: perangko yang penerbitannya dimaksudkan untuk menghimpun dana bagi kepentingan amal dan dijual dengan harga tambahan.

 

5  Perangko Termahal

Dalam keadaan darurat, ada perangko-perangko yang dicetak dengan klise terdiri dari huruf-huruf lepas (typeset) seperti halnya orang mencetak kartu nama, misalnya perangko yang dikeluarkan oleh Malta pada tahun 1925. Kadang-kadang masih disetai klise gambar seperti pada perangko milik British Guiana (1856) yang merupakan perangko termahal di dunia. Perangko-perangko yang dicetak dengan menggunakan cetak tindih umumnya menggunakan typeset, seperti perangko edisi RIS, RIAU, UNTEA. Sementara itu, perangko termahal di Indonesia sampai saat ini yaitu perangko Hindia Belanda yang dicetak pada tahun 1984. Harganya kini sekitar Rp 20 miliar dan barangnya ada di secondary market.

 

6  Perforasi Perangko

Perforasi merupakan baris lubang-lubang di antara deretan perangko dalam lembaran, diadakan dengan maksud agar perangko-perangko tersebut mudah disobek tanpa harus menggunakan gunting. Preforasi yang disobek merupakan “gigi-gigi” pada perangko.

Perforasi pada perangko diberlakukan oleh Archer di Inggris pada tahun 1864. Sebelum itu, perangko diterbitkan tanpa perforasi sehingga untuk menggunakan perangko tersebut perlu digunting dari lembarannya.

Perforasi ada 3 macam:

  • Perforasi baris
  • Perforasi sisir
  • Perforasi blok

Perforasi sendiri tidak hanya berbentuk lubang, tetapi dapat juga berbentuk :

  • Tusuk jarum (pin perporation)
  • Tusuk pisau (roulette)

 

7  Cetak Tindih Perangko

Perangko yang sudah beredar kemudian diberi tanda cetakan lagi disebut cetak tindih. Kadang-kadang tambahan cetakan ini dilakukan dengan mesin cetak yang sederhana yang dapat menimbulkan bermacam-macam perbedaan, penyimpangan, dan kesalahan. Adapula yang hurufnya rusak (cetak tindih UNTEA 1962) . Adapula yang dilakukan dengan cap tangan/cap karet (Pendudukan Jepang dan masa Revolusi Indonesia).

 

8  Harga Perangko

Harga Perangko akan semakin mahal karena 5 hal berikut:

  1. Perforasi: Perangko tanpa perforasi memiliki harga yang lebih mahal daripada perangko dengan jenis yang sama yang diterbitkan tanpa gigi atau tanpa perforasi.
  2. Cetak Tindih: Cetak tindih yang dibubuhi akan berakibat pada perubahan harga pada perangko aslinya, termasuk cetak tindih yang dimaksudkan hanya untuk mengubah nama negara untuk peringatan dan sebagainya yang tidak ada kaitannya dengan perubahan harga.
  3. Tercetak Menyimpang atau Cacat: Umumnya ada perangko-perangko yang tercetak menyimpang dari perangko umumnya. Karena jumlahnya sedikit, perangko-perangko yang cetakannya menyimpang menjadi incaran para filatelis, karena langka dan harganya sangat mahal. Sebagai gambaran bila perangko yang bergambar penari piring tercetak dengan piring yang menghadap ke atas, maka ada perangko yang bergambar penari piring tercetak dengan piring yang menghadap ke bawah, dan perangko inilah yang kemudian menjadi incaran para kolektor.
  4. Usia Perangko: Perangko yang berumur puluhan hingga ratusan tahun akan menjadi semakin mahal.
  5. Volume Penerbitan: volume juga menjadi penentu. Perangko Soekarno lebih murah ketimbang Habibie, karena perangko Habibie saat itu hanya dicetak 300.000 keping, sedangkan Soekarno sebanyak 14 juta keping. Seperti hukum ekonomi, semakin langka, barang semakin mahal.

 

9  Perangko atau Prangko?

Dalam bahasa Indonesia, sebenarnya istilah yang baku adalah prangko, meskipun orang lebih sering menyebutnya dengan perangko. Kata “Perangko” ini pada tahun 1985 resmi diseragamkan jadi Prangko oleh Richard Yani Susilo pada buletin Berita Filateli (http://berifil.com/). Istilah ini berasal dari kata dalam bahasa latin franco.

 

10  Beda Perangko Indonesia dan Perangko Inggris

Satu-satunya negara tanpa menuliskan nama negaranya pada perangko adalah Inggris karena dianggap pelopor penerbitan perangko di dunia di mana perangko resmi pertama di dunia berasal dari Inggris (Richard Yani Susilo, Mengenal Filateli di Indonesia).

Perangko pertama kali diperkenalkan pada tanggal 1 Mei 1840 di Britania Raya sebagai reformasi pos oleh Rowland Hill. Oleh karena itu sampai sekarang Britania Raya mendapat perlakuan khusus. Negara ini adalah satu-satunya negara yang tidak perlu mencantumkan nama negara di atas perangko.

Perangko memuat nama negara, ada yang memuat nama resmi negara baik dalam bahasa Inggris atau bahasa resmi negaranya, ada yang memuat dua bahasa seperti perangko Belgia, Kanada, Afrika Selatan, Srilanka dan Finlandia, bahkan ada yang mempergunakan 3 bahasa seperti Cyprus dan Israel. Swiss menggunakan nama latinnya “Helvetica”.

Adakalanya perangko-perangko yang sama digunakan 2 atau 3 negara bersama-sama, sehingga nama negaranya dicantumkan bersama seperti Rhodesia-Nyassa dan Kenya-Uganda-Tanganyika.

Satu-satunya negara tanpa menuliskan nama negaranya pada perangko adalah Inggris. karena dianggap pelopor penerbitan perangko di dunia dimana perangko resmi pertama di dunia berasal dari Inggris (Richard Yani Susilo, Mengenal Filateli di Indonesia).

 

11  Perangko Prisma atau Perangko Personal

Perangko Prisma, singkatan dari Perangko Identitas Milik Anda (personalised stamps), adalah perangko yang dapat menampilkan foto atau identitas lainnya (logo, produk, lambang perusahaan, tulisan / slogan bahkan tanda tangan atau apa pun) yang dikehendaki oleh pemesan, yang dicetak di atas security paper seperti halnya kertas berharga. Perangko Prisma dapat digunakan untuk berkirim surat, juga dapat dijadikan sebagai cinderamata.

Perangko Prisma diperkenalkan pertama kali oleh Australia Post pada kesempatan “Australia 99” pameran filateli sedunia yang diadakan di Melbourne Australia pada tanggal 19-24 Maret 1999, dengan sebutan “personalised stamp”. Konsep Australia Post untuk meluncurkan perangko yang memiliki identitas pribadi didukung oleh teknologi yang merupakan kombinasi teknologi cetak yang sudah lazim dikenal dengan kecanggihan proses digital. Indonesia merupakan negara kedua setelah Australia yang memperkenalkan Perangko Prisma. Barulah Jepang memperkenalkan Perangko Prisma di PhilaNippon 2001.

Dalam meningkatkan kembali awareness perangko di Indonesia, PT Pos kerap bekerja sama dengan pihak swasta untuk mencetak perangko dengan tema-tema tertentu. Pihak PT Pos menyebutnya sebagai Perangko Prisma, alias perangko yang dicetak di luar edisi rutin.

Sebelumnya, PT Pos juga sempat mencetak perangko bertema 200 Tahun Candi Borobudur dan Keraton Ratu Boko. Bahkan, perangko itu menyematkan teknologi augmented reality, yang mana konsumen dapat melihat gambar secara tiga dimensi menggunakan kamera smartphone. Banyak turis yang akhirnya datang ke Keraton Ratu Boko lantaran tahu dari perangko yang diperolehnya. Jadi, perangko adalah salah satu cara efektif untuk mempromosikan destinasi Indonesia kepada para filateli dunia.

 

12  Ukuran Perangko: Perangko Terkecil dan Perangko Terbesar

Pada mulanya perangko-perangko dibuat sepraktis munkin, tidak terlalu besar tetapi juga tidak terlalu kecil. Perangko-perangko pertama kebanyakan diterbitkan dalam ukuran 25 x 18 mm. Kemudian ukurannya disesuaikan denga kebutuhan penerbitannya. Perangko terkecil adalah perangko Mecklenburg Scwein (Jerman) yang diterbitkan pada tahun 1856 berukuran 9 x 9 mm, sedangkan perangko terbesar adalah perangko Amerika Serikat yang diterbitkan pada tahun 1856 berukuran 53 x 97 mm. Umumnya perangko-perangko yang harga nominalnya lebih tinggi diterbitkan lebih besar daripada yang harga nominalnya rendah seperti halnya dengan perangko-perangko terbitan Hindia Belanda, Inggris, dan Belanda.

 

13  Bentuk Perangko: Segitiga, Segi Empat, Segi Delapan

Pada mulanya perangko-perangko diterbitkan dalam bentuk persegi panjang sesuai dengan bingkai potret raja (yang dijadikan gambar perangko) dari negara penerbitnya. Kemudian digunakan bentuk persegi panjang mendatar yang lebih serasi untuk perangko-perangko peringatan. Beberapa bentuk perangko di antaranya ialah bentuk persegi atau bujur sangkar yang pertama kali dipergunakan oleh Bavaria pada tahun 1849, bentuk segitiga yang pertama kali dipergunakan oleh Cape of Good Hope (Afrika Selatan) pada tahun 1853, bentuk segi delapan dipergunakan Yunani pada tahun 1898 dan masih ada lagi bentuk-bentuk lainnya.

Perangko-perangko yang pernah digunakan di Indonesia diterbitkan dalam bentuk persegi panjang, segiempat sama sisi, dan segitiga sama sisi (terbitan pemerintah Hindia Belanda).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *