Kontraversi Pluto: Planet atau bukan?

planet pluto

Pluto adalah planet kerdil di sabuk Kuiper. Pluto merupakan planet kerdil terbesar dan bermassa terbesar kedua di Tata Surya dan benda terbesar kesembilan dan bermassa terbesar kesepuluh yang mengorbit Matahari secara langsung. Pluto merupakan objek trans-Neptunus pertama yang ditemukan dengan volume terbesar dan massa yang sedikit lebih kecil daripada Eris, planet kerdil di piringan tersebar (scattered disc).

Layaknya objek lain di sabuk Kuiper, Pluto terdiri dari batu dan es dan relatif kecil—kurang lebih seperenam massa Bulan dan sepertiga volume Bulan. Pluto memiliki orbit eksentris dan miring dengan jarak 30 sampai 49 satuan astronomi (4,4–7,3 miliar km) dari Matahari. Ini berarti ada saatnya Pluto lebih dekat ke Matahari daripada Neptunus; resonansi orbit yang stabil dengan Neptunus membuat kedua planet ini tidak bertabrakan. Pada tahun 2014, Pluto berjarak 32,6 SA dari Matahari. Cahaya Matahari butuh waktu 5,5 jam untuk mencapai Pluto pada jarak rata-ratanya (39,4 SA).

Pluto sejauh ini diketahui memiliki lima satelit: Charon (terbesar; diameternya separuh diameter Pluto), Styx, Nix, Kerberos, dan Hydra. Pluto dan Charon kadang dianggap sistem biner karena barisenter orbit mereka terletak di antara kedua objek ini. Persatuan Astronomi Internasional (IAU) belum meresmikan definisi planet kerdil biner, dan Charon dinyatakan secara resmi sebagai satelit Pluto.

Pada tanggal 14 Juli 2015, New Horizons menjadi wahana pertama yang terbang melewati Pluto. NASA berencana melakukan pengukuran rinci dan mengambil foto-foto Pluto beserta satelit-satelitnya menggunakan wahana New Horizons.

 

Misteri dan Asal Nama Pluto

Penemuan Planet Pluto diliput secara luas di seluruh dunia. Observatorium Lowell, pemegang hak pemberian nama objek baru ini, menerima lebih dari 1.000 sumbangan nama dari seluruh dunia, mulai dari Atlas sampai Zymal. Tombaugh meminta Slipher menyumbang nama untuk objek ini sebelum didahului orang lain. Constance Lowell mengusulkan Zeus, Percival, dan Constance. Usulan tersebut diabaikan.

Nama Pluto, diambil dari dewa dunia bawah, diusulkan oleh Venetia Burney (1918–2009), pelajar berusia 11 tahun asal Oxford, Inggris, yang tertarik dengan mitologi klasik. Ia mengusulkan nama ini saat sedang bercakap-cakap dengan kakeknya, Falconer Madan, mantan pustakawan di Bodleian Library, Universitas Oxford. Madan meneruskan usulan nama tersebut ke dosen astronomi Herbert Hall Turner. Turner menyampaikannya ke rekan-rekannya di Amerika Serikat.

Objek ini memiliki nama resmi pada 24 Maret 1930. Setiap anggota Observatorium Lowell diberi hak suara untuk memilih satu dari tiga nama: Minerva (sudah menjadi nama asteroid), Cronus (reputasinya rendah karena diusulkan oleh astronom Thomas Jefferson Jackson See yang kurang tepercaya), dan Pluto. Pluto mendapat suara bulat. Nama ini diumumkan tanggal 1 Mei 1930. Setelah diumumkan, Madan memberikan Venetia hadiah sebesar £5 (setara dengan £234, atau $430 USD tahun 2015).

Pilihan nama ini didorong oleh fakta bahwa dua huruf pertama Pluto adalah inisial Percival Lowell, dan simbol astronomi Pluto (unicode U+2647, ♇) merupakan monogram yang dibentuk dari huruf ‘PL’. Simbol astrologi Pluto mirip dengan simbol Neptunus, tetapi memiliki lingkaran tambahan di tengah trisula.

Nama ini pun langsung disambut secara luas. Pada tahun 1930, Walt Disney tampaknya terinspirasi oleh nama ini setelah ia memperkenalkan anjing pendamping Mickey Mouse bernama Pluto, tetapi animator Disney Ben Sharpsteen tidak dapat mengonfirmasi sebab anjing tersebut diberi nama demikian. Tahun 1941, Glenn T. Seaborg mengadopsi nama elemen kimia plutonium dari planet Pluto sesuai tradisi penamaan planet baru. Plutonium diberi nama setelah uranium, dari Uranus, dan neptunium, dari Neptunus.

Sebagian besar bahasa di dunia menggunakan nama “Pluto” dalam berbagai transliterasi. Dalam bahasa Jepang, Houei Nojiri mengusulkan terjemahan Meiōsei (冥王星), “Bintang Raja (Dewa) Dunia Bawah”), dan kata ini dipinjam oleh bahasa Cina, Korea, dan Vietnam. Sejumlah bahasa di India memakai nama Pluto, sedangkan bahasa-bahasa lainnya seperti Hindi memakai nama Yama, Penjaga Neraka dalam mitologi Hindu dan Buddha, demikian halnya dengan bahasa Vietnam. Rumpun bahasa Polinesia cenderung memakai nama dewa dunia bawah pribumi, misalnya Whiro dalam bahasa Maori.

 

Pro dan Kontra Pluto termasuk Planet atau Bukan

Asal usul dan identitas Pluto telah membingungkan para astronom. Awalnya, sebuah hipotesis menyatakan bahwa Pluto adalah satelit Neptunus yang dikeluarkan dari orbitnya oleh satelit terbesar, Triton. Gagasan ini akhirnya ditolak setelah studi dinamika orbit kedua planet menunjukkan bahwa fenomena seperti itu mustahil terjadi.

Pluto ditemukan tahun 1930 dan awalnya dinyatakan sebagai planet kesembilan dari Matahari. Setelah 1992, status planetnya dipertanyakan setelah para astronom menemukan sabuk Kuiper, lingkaran objek di luar Neptunus yang mencakup Pluto dan benda-benda lainnya. Tahun 2005, Eris, yang massanya 27% lebih besar daripada Pluto, ditemukan.

Persatuan Astronomi Internasional (IAU) mengeluarkan definisi resmi “planet” untuk pertama kalinya pada tahun 2006. Pluto tidak sesuai dengan definisi ini dan dipindahkan ke golongan “planet kerdil” yang baru saja dibuat, lebih tepatnya plutoid. Sejumlah astronom meyakini bahwa Pluto masih dianggap sebagai planet.

Tempat sejati Pluto di Tata Surya mulai terungkap pada tahun 1992 ketika para astronom mulai menemukan benda-benda es kecil di luar Neptunus yang lebih kecil daripada Pluto baik orbit, ukuran, maupun komposisinya. Populasi trans-Neptunus ini diyakini menjadi sumber berbagai komet periode rendah. Para astronom sekarang percaya bahwa Pluto adalah anggota sabuk Kuiper terbesar, sabuk objek stabil antara 30 dan 50 SA dari Matahari. Per 2011, survei sabuk Kuiper sampai magnitudo 21 hampir selesai dan benda-benda berukuran Pluto lainnya yang tersisa diperkirakan berada di luar 100 SA dari Matahari. Seperti objek-objek sabuk Kuiper (KBO) lainnya, Pluto memiliki fitur yang sama seperti komet; misalnya, angin matahari perlahan meniupkan permukaan Pluto ke luar angkasa layaknya komet. Menurut salah satu klaim, apabila Pluto diletakkan di tempat yang sama seperti Bumi, Pluto akan memiliki ekor seperti komet pada umumnya. Klaim ini diragukan dengan alasan kecepatan lepas Pluto terlalu tinggi sehingga perilaku mirip komet ini tidak mungkin terjadi.

Meski Pluto adalah objek sabuk Kuiper terbesar yang pernah ditemukan, satelit Neptunus, Triton, yang ukurannya agak lebih besar daripada Pluto, memiliki kemiripan geologi dan atmosfer dan diyakini sebagai objek sabuk Kuiper yang terperangkap. Eris memiliki ukuran yang kurang lebih sama dengan Pluto (dengan massa yang lebih besar) tetapi tidak dianggap sebagai bagian populasi sabuk kuiper. Eris justru dianggap sebagai anggota populasi terkait yang disebut piringan tersebar.

Sejumlah objek sabuk Kuiper seperti Pluto berada dalam resonansi orbit 2:3 dengan Neptunus. KBO yang memiliki resonansi orbit ini disebut “plutino“, istilah yang diturunkan dari nama Pluto.

Seperti anggota sabuk Kuiper lainnya, Pluto dipercayai sebagai planetesimal endapan: komponen piringan protoplanet asli di sekitar Matahari yang gagal menggumpal menjadi planet. Sebagian besar astronom sepakat bahwa posisi Pluto saat ini disebabkan oleh migrasi dadakan Neptunus pada awal pembentukan Tata Surya. Seiring pindahnya Neptunus menjauhi Matahari, Neptunus mendekati objek-objek di protosabuk Kuiper, menangkap satu objek (Triton), mengunci objek lainnya ke dalam resonansi orbit, dan melempar objek lainnya ke orbit yang kacau. Objek-objek di piringan tersebar, kawasan tak stabil yang tumpang tindih dengan sabuk Kuiper, diyakini terbentuk akibat interaksi dengan resonansi migrasi Neptunus. Model komputer buatan Alessandro Morbidelli dari Observatoire de la Côte d’Azur di Nice tahun 2004 menunjukkan bahwa migrasi Neptunus ke sabuk Kuiper bisa saja dipicu oleh pembentukan resonansi 1:2 antara Yupiter dan Saturnus sehingga menghasilkan dorongan gravitasi yang mendorong Uranus dan Neputunus ke orbit yang lebih tinggi dan membuat keduanya bertukar tempat; jarak Neptunus dari Matahari pun berlipat ganda. Pelemparan objek-objek dari sabuk proto-Kuiper juga dapat menjelaskan Pengeboman Berat Akhir 600 juta tahun setelah terbentuknya Tata Surya dan munculnya troya Yupiter. Pluto diasumsikan pernah memiliki orbit nyaris melingkar sekitar 33 SA dari Matahari sebelum migrasi Neptunus menggiringnya ke dalam resonansi orbit. Model Nice didasarkan pada asumsi bahwa terdapat seribu benda berukuran Pluto di piringan planetesimal pertama yang mencakup Triton dan Eris.

Sejak 1992 sampai seterusnya, banyak benda angkasa yang ditemukan mengorbit di wilayah yang sama seperti Pluto, artinya Pluto merupakan bagian dari populasi objek bernama sabuk Kuiper. Hal ini membuat status planetnya dipertanyakan. Banyak pihak mempersoalkan tergolong atau tidaknya Pluto dengan populasi sekitarnya. Direktur museum dan planetarium menciptakan kontroversi dengan menurunkan Pluto dari model planet-planet Tata Surya. Hayden Planetarium dibuka kembali—bulan Februari 2000 setelah direnovasi—dengan model delapan planet dan baru diliput secara luas hampir satu tahun kemudian.

Seiring ditemukannya objek-objek yang ukurannya sama dengan Pluto di wilayah tersebut, para ilmuwan berpendapat bahwa Pluto perlu dikelompokkan sebagai salah satu objek sabuk Kuiper; Ceres, Pallas, Juno, dan Vesta juga kehilangan status planetnya setelah banyak asteroid ditemukan di sekitarnya. Tanggal 29 Juli 2005, para astronom mengumumkan penemuan objek trans-Neptunus baru, Eris, yang diperkirakan lebih besar daripada Pluto. Ini merupakan objek terbesar yang ditemukan di Tata Surya sejak Triton tahun 1846. Para penemu dan pers awalnya menyebut Eris planet kesepuluh, tetapi tidak ada konsensus resmi perihal status planetnya. Pihak lain di komunitas astronom menganggap penemuan ini alasan terkuat untuk mengganti status Pluto menjadi planet minor.

 

Pluto bukan Planet menurut Persatuan Astronomi Internasional (IAU)

pluto dan satelit

Perdebatan mulai muncul pada tanggal 24 Agustus 2006 seiring diterbitkannya resolusi IAU yang menetapkan definisi kata “planet” secara resmi. Menurut resolusi tersebut, ada tiga syarat utama agar suatu objek dapat dianggap sebagai “planet”:

  1. Objek tersebut harus mengorbit Matahari.
  2. Objek tersebut memiliki massa yang cukup untuk menciptakan medan gravitasinya sendiri. Lebih spesifiknya, gravitasinya harus mengubah bentuk objek tersebut ke dalam keadaan kesetimbangan hidrostatis.
  3. Objek harus membersihkan lingkungan di sekitar orbitnya.

Ternyata, Pluto gagal memenuhi syarat ketiga, karena massanya hanya 0,07 kali massa objek-objek lain di orbitnya (sebagai perbandingan, massa Bumi 1,7 juta kali lipat massa objek yang tersisa di orbitnya). IAU juga memutuskan bahwa benda-benda seperti Pluto yang tidak memenuhi syarat ketiga akan dikelompokkan sebagai planet kerdil. Pada tanggal 13 September 2006, IAU memasukkan Pluto dan Eris beserta sateltinya, Dysnomia, ke Minor Planet Catalogue. Masing-masing diberi penanda planet kecil resmi “(134340) Pluto”, “(136199) Eris”, dan “(136199) Eris I Dysnomia”. Apabila Pluto diberi penanda saat ditemukan, angka penandanya sekitar 1.164, bukan 134.340.

Ada berbagai penolakan dari komunitas astronom terkait pengelompokan ulang ini. Alan Stern, penyidik utama misi New Horizons NASA ke Pluto, menolak resolusi IAU secara terbuka; ia menyatakan bahwa “definisi ini jelek karena alasan teknis”. Stern keberatan karena menurut definisi baru ini, Bumi, Mars, Yupiter, dan Neptunus yang berbagi orbit dengan asteroid tidak bisa dikatakan sebagai planet. Ia berpendapat bahwa semua satelit bulat berukuran besar, termasuk Bulan, justru bisa dikatakan sebagai planet. Klaim Stern yang lain adalah karena kurang dari lima persen astronom yang mendukung resolusi ini, keputusan IAU tidak mewakili seluruh komunitas astronom. Marc W. Buie, astronom Observatorium Lowell, menyampaikan pendapatnya soal definisi baru ini di situs webnya dan menolak definisi ini. Astronom lainnya mendukung IAU. Mike Brown, astronom yang menemukan Eris, mengatakan bahwa “melalui prosedur rumit yang mirip sirkus ini, entah bagaimana muncullah jawaban yang tepat. Jawaban ini sudah dinanti-nanti. Ilmu pengetahuan pada akhirnya akan memperbaiki diri sendiri meskipun melibatkan emosi yang kuat.”

 

Respon dan Tanggapan

Tanggapan masyarakat terhadap keputusan IAU beragam. Walaupun banyak yang menerima pengelompokan ulang ini, banyak pula pihak yang berusaha membatalkan keputusan ini lewat petisi daring agar IAU mempertimbangkan kembali definisi baru tersebut. Resolusi yang diperkenalkan oleh beberapa anggota Majelis Negara Bagian California menyebut keputusan IAU sebagai “penistaan ilmu pengetahuan”. Dewan Perwakilan Rakyat New Mexico mengesahkan resolusi yang menyatakan bahwa Pluto diakui sebagai planet di langit New Mexico sebagai penghormatan kepada Tombaugh, warga New Mexico; resolusi tersebut juga menyatakan 13 Maret 2007 sebagai Hari Planet Pluto. Senat Illinois mengesahkan resolusi serupa pada tahun 2009 atas dasar bahwa Clyde Tombaugh, penemu Pluto, lahir di Illinois. Resolusi tersebut menegaskan bahwa Pluto “diturunkan statusnya secara tidak adil menjadi planet ‘kerdil'” oleh IAU. Sejumlah tokoh masyarakat juga menolak perubahan ini atas alasan tidak adanya kesepakatan di kalangan ilmuwan seputar isu ini atau kemungkinan bahwa para ilmuwan selalu mengakui Pluto sebagai planet dengan alasan sentimental sekalipun keputusan IAU menyatakan sebaliknya.

Pada tahun 2006, dalam pemilihan Kata Pilihan ke-17, American Dialect Society memilih plutoed (terplutokan) sebagai kata pilihan tahun 2006. “Memplutokan” berarti “menurunkan derajat atau nilai seseorang atau sesuatu”.

Peneliti dari dua kubu yang bertentangan mengadakan pertemuan pada tanggal 14–16 Agustus 2008 di Johns Hopkins University Applied Physics Laboratory. for a conference that included back-to-back talks on the current IAU definition of a planet. Dengan tajuk “The Great Planet Debate”, konferensi ini merilis pernyataan pascakonferensi bahwa para ilmuwan gagal menyepakati definisi planet. Tepat sebelum konferensi ini, pada tanggal 11 Juni 2008, IAU mengumumkan bahwa kata “plutoid” akan digunakan untuk menyebut Pluto dan objek-objek lain dengan sumbu semi-mayor orbit yang lebih besar daripada sumbu semi-mayor Neptunus dan massa yang cukup untuk membuatnya nyaris bulat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *