Terorisme: sebuah Istilah Multitafsir

terorisme israel terhadap palestina

Perbedaan Terorisme dengan Tindakan Kekerasan yang Lain

Terorisme adalah serangan-serangan terkoordinasi yang bertujuan membangkitkan perasaan teror terhadap sekelompok masyarakat. Terorisme selalu identik dengan kekerasan. Terorisme adalah puncak aksi kekerasan, terrorism is the apex of violence. Bisa saja kekerasan terjadi tanpa teror, tetapi tidak ada teror tanpa kekerasan.

Berbeda dengan perang, aksi terorisme tidak tunduk pada tata cara peperangan seperti waktu pelaksanaan yang selalu tiba-tiba dan target korban jiwa yang acak serta seringkali merupakan warga sipil.

Terorisme juga tidak sama dengan intimidasi atau sabotase. Sasaran intimidasi dan sabotase umumnya langsung, sedangkan terorisme tidak. Korban tindakan terorisme seringkali adalah orang yang tidak bersalah. Kaum teroris bermaksud ingin menciptakan sensasi agar masyarakat luas memperhatikan apa yang mereka perjuangkan.

Tindakan teror tidaklah sama dengan vandalisme, yang motifnya merusak benda-benda fisik. Vandalisme adalah tindakan melakukan sesuatu dengan tujuan utamanya adalah merusak. Kerusakan itu sendiri yang menjadi tujuan. Sedangkan terorisme tidak menjadikan kerusakan sebagai tujuan, meskipun kerusakan hampir selalu menyertainya.

Terorisme berbeda pula dengan mafia. Tindakan mafia menekankan omerta, tutup mulut, sebagai sumpah. Omerta merupakan bentuk ekstrem loyalitas dan solidaritas kelompok dalam menghadapi pihak lain, terutama penguasa. Berbeda dengan Yakuza atau mafia Cosa Nostrayang menekankan kode omerta, kaum teroris modern justru seringkali mengeluarkan pernyataan dan tuntutan. Mereka ingin menarik perhatian masyarakat luas dan memanfaatkan media massa untuk menyuarakan pesan perjuangannya. Namun, belakangan, kaum teroris semakin membutuhkan dana besar dalam kegiatan globalnya, sehingga mereka tidak suka mengklaim tindakannya, agar dapat melakukan upaya mengumpulkan dana bagi kegiatannya.

 

Beberapa Definisi Terorisme

Definisi terorisme ternyata berbeda dengan tindakan perusakan yang lain. Berikut beberapa definisi terorisme yang dikemukakan dari beberapa sumber.

Istilah teroris oleh para ahli kontraterorisme dikatakan merujuk kepada para pelaku yang tidak tergabung dalam angkatan bersenjata yang dikenal atau tidak menuruti peraturan angkatan bersenjata tersebut. Aksi terorisme juga mengandung makna bahwa serangan terorisme yang dilakukan tidak berperikemanusiaan dan tidak memiliki justifikasi, dan oleh karena itu para pelakunya (“teroris”) layak mendapatkan pembalasan yang kejam.

Akibat makna-makna negatif yang dikandung oleh perkataan “teroris” dan “terorisme”, para teroris umumnya menyebut diri mereka sebagai separatis, pejuang pembebasan, pasukan perang salib, militan, mujahidin, dan lain-lain. Terorisme sendiri sering tampil dengan mengatasnamakan agama, meskipun sebenarnya terorisme tidak ada hubungan sama sekali dengan agama.

Peter Rosler Garcia, pakar hukum dan politik dari Jerman, menyatakan bahwa terorisme adalah kegiatan yang tersistem dengan baik, dan bertujuan untuk memperkenalkan budaya politik baru. Artinya, Peter menjelaskan bahwa ada kepentingan politik lain untuk menggantikan politik sebelumnya. Terorisme mempunyai bentuk bervariasi. Pada umumnya, Peter menyebutkan bom bunuh diri, pembunuhan massal, dan penyanderaan tokoh penting merupakan bentuk-bentuk terorisme.

Namun, definisi di atas disanggah oleh Amy Zalman Ph.D. Sebagai Global Terrorism Expert, Amy menyatakan tidak ada definisi yang tepat untuk menjelaskan apa itu terorisme. Terorisme menurut Amy adalah sebuah kepentingan pribadi dan kelompok yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Tidak hanya sebatas ledakan bom atau pembunuhan massal. Menurutnya, terorisme adalah aksi kriminal yang merugikan seseorang atau orang banyak, tergantung dari kebutuhan si teroris.

Federal Bureau of Investigation (FBI) menjelaskan, terorisme dibagi menjadi dua jenis, pertama terorisme skala internasional dan kedua terorisme skala domestik. Persamaan kedua jenis terorisme tersebut adalah aksi-aksi yang dilakukan para teroris. Aksi-aksi tersebut seperti penculikan, pembunuhan, dan perusakan. Tidak banyak perbedaan dari definisi yang telah dijelaskan oleh Peter Rosler sebelumnya.

Kemudian, kumpulan definisi dari ahli yang dirangkum dalam jurnal terbitan Sage Publication, menyatakan terorisme adalah sebuah pejorative term. Kondisi pejorative merupakan sebuah kepahaman sebagian kelompok yang memahami ideologi dari sisi negatif. Contohnya adalah sebagian orang yang salah mengartikan beberapa ayat kitab suci, sehingga berujung dengan perlakuan ekstrem yang justru berlawanan maknanya.

Pasal 14 ayat 1 The Prevention of Terrorism (Temporary Provisions) act, 1984, mencoba mendefinisikan terorisme sebagai berikut: “Terrorism means the use of violence for political ends and includes any use of violence for the purpose putting the public or any section of the public in fear.” Kegiatan Terorisme mempunyai tujuan untuk membuat orang lain merasa ketakutan sehingga dengan demikian dapat menarik perhatian orang, kelompok, atau suatu bangsa. Biasanya perbuatan teror digunakan apabila tidak ada jalan lain yang dapat ditempuh untuk melaksanakan kehendaknya. Terorisme digunakan sebagai senjata psikologis untuk menciptakan suasana panik, tidak menentu, serta menciptakan ketidakpercayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintah dan memaksa masyarakat atau kelompok tertentu untuk mentaati kehendak pelaku teror. Terorisme tidak ditujukan langsung kepada lawan, akan tetapi perbuatan teror justru dilakukan di mana saja dan terhadap siapa saja. Dan yang lebih utama, maksud yang ingin disampaikan oleh pelaku teror adalah agar perbuatan teror tersebut mendapat perhatian yang khusus atau dapat dikatakan lebih sebagai psy-war.

Menurut Prof. M. Cherif Bassiouni, ahli Hukum Pidana Internasional, bahwa tidak mudah untuk mengadakan suatu pengertian yang identik yang dapat diterima secara universal sehingga sulit mengadakan pengawasan atas makna terorisme tersebut. Sedangkan menurut Prof. Brian Jenkins, Phd., terorisme merupakan pandangan yang subjektif, hal mana didasarkan atas siapa yang memberi batasan pada saat dan kondisi tertentu.

 

Usaha Penjeratan Tindakan Terorisme secara Hukum

Dalam rangka mencegah dan memerangi terorisme tersebut, sejak jauh sebelum maraknya kejadian-kejadian yang digolongkan sebagai bentuk terorisme terjadi di dunia, masyarakat internasional maupun regional serta pelbagai negara telah berusaha melakukan kebijakan kriminal (criminal policy) disertai kriminalisasi secara sistematik dan komprehensif terhadap perbuatan yang dikategorikan sebagai terorisme ke dalam jeratan hukum, sehingga tindakan terorisme tidak begitu saja dibiarkan lepas dari jangkauan hukum.

Usaha memberantas terorisme tersebut telah dilakukan sejak pertengahan abad ke-20. Pada tahun 1937 lahir Konvensi Pencegahan dan Penghukuman Terorisme (Convention for The Prevention and Suppression of Terrorism), di mana Konvensi ini mengartikan terorisme secara hukum sebagai Crimes against State.

Melalui European Convention on The Supression of Terrorism (ECST) tahun 1977 di Eropa, makna terorisme mengalami suatu pergeseran dan perluasan paradigma, yaitu sebagai suatu perbuatan yang semula dikategorikan sebagai Crimes against State (termasuk pembunuhan dan percobaan pembunuhan Kepala Negara atau anggota keluarganya), menjadi kejahatan terhadap kemanusiaan (Crimes against Humanity), di mana yang menjadi korban adalah masyarakat sipil. Crimes against Humanity masuk kategori Gross Violation of Human Rights (Pelanggaran HAM Berat) yang dilakukan sebagai bagian yang meluas/sistematik yang diketahui bahwa serangan tersebut ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil, lebih diarahkan pada jiwa-jiwa orang tidak bersalah (Public by innocent).

Terorisme kian jelas menjadi momok bagi peradaban modern. Sifat tindakan, pelaku, tujuan strategis, motivasi, hasil yang diharapkan serta dicapai, target-target serta metode terorisme kini semakin luas dan bervariasi, sehingga semakin jelas bahwa teror bukan merupakan bentuk kejahatan kekerasan destruktif biasa, melainkan sudah merupakan kejahatan terhadap perdamaian dan keamanan umat manusia (Crimes against Peace and Security of Mankind).

Menurut Muladi, Tindak Pidana Terorisme dapat dikategorikan sebagai mala per se atau mala in se, tergolong kejahatan terhadap hati nurani (Crimes against Conscience), menjadi sesuatu yang jahat bukan karena diatur atau dilarang oleh Undang-Undang, melainkan karena pada dasarnya tergolong sebagai natural wrong atau acts wrong in themselves bukan mala prohibita yang tergolong kejahatan karena diatur demikian oleh Undang-Undang.

 

Terorisme Negara

Terorisme negara (Bahasa Inggris: state terrorism) dapat mencakup tindakan-tindakan kekerasan atau penindasan yang dilakukan oleh suatu pemerintahan atau negara proksi. Sejauh mana suatu tindakan tertentu dapat dianggap sebagai “terorisme” tergantung pada apakah si pemenang menganggap tindakan itu dapat dibenarkan atau perlu, atau sejauh mana tindakan teroris itu dilakukan sebagai bagian dari suatu konflik bersenjata. Terorisme negara dapat ditujukan kepada penduduk negara yang bersangkutan, atau terhadap penduduk negara-negara lainnya. Terorisme itu dapat dilakukan oleh angkatan bersenjata negara itu sendiri, misalnya tentara, polisi, atau organisasi-organisasi lainnya, dan dalam hal ini biasanya ia disebut sebagai terorisme yang disponsori negara. Kita harus membedakan terorisme negara dari tindak kekerasan yang dilakukan oleh agen-agen pemerintah yang tidak secara khusus ditetapkan dalam kebijakan pemerintah. Pembunuhan yang dilakukan oleh seorang polisi, misalnya, tidak dianggap sebagai terorisme negara kecuali bila pemerintah mendukung tindakan itu.

Noam Chomsky menyatakan bahwa Amerika Serikat termasuk ke dalam kategori pelaku terorisme negara. Persoalan standar ganda selalu mewarnai berbagai penyebutan yang awalnya bermula dari Barat. Seperti ketika Amerika Serikat banyak menyebut teroris terhadap berbagai kelompok di dunia, di sisi lain liputan media menunjukkan fakta bahwa Amerika Serikat melakukan tindakan terorisme yang mengerikan hingga melanggar konvensi yang telah disepakati.

Terorisme negara, seperti terorisme umumnya, bersifat kontroversial, dan untuk itu tidak ada definisi yang diterima umum. Sering tindakan-tindakan yang dianggap oleh para kritik sebagai teror, dibela oleh para pendukungnya sebagai pertahanan yang sah melawan apa yang dianggap sebagai ancaman. Banyak yang berpendapat bahwa dalam suatu konflik bersenjata negara tidak dapat melakukan tindakan teror apabila tindakan-tindakan angkatan bersenjatanya dilakukan dalam batas-batas hukum perang.

Berikut contoh negara yang dikategorikan telah melakukan terorisme negara, selain Amerika Serikat:

 

Israel

Israel terlibat dalam operasi militer dan taktik-taktik yang kontroversial. Menurut mantan Menteri Pendidikan Israel Shulamit Aloni, “teror yang digunakan Israel di wilayah Palestina lebih buruk dari terorisme Palestina.” Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdoğan dan pendiri CNN Ted Turner juga menunjuk tindakan-tindakan Israel sebagai terorisme negara. Contoh tindakan-tindakan Israel yang dikritik melanggar hak asasi manusia antara lain, serangan-serangan ke teritori Palestina, pelecehan dan penggunaan rakyat sipil Palestina sebagai tameng manusia, operasi-operasi pembunuhan yang dilakukan Israel dan Mossad, serta operasi pembunuhan tokoh Arab yang menimbulkan korban sipil besar. Misalnya, upaya pembunuhan Yasser Arafat pada 1982 menewaskan 200 orang di Beirut, dan upaya lain menewaskan 73 orang di Tunis.

 

Jerman

Selama masa Republik Weimar di 1920an dan awal 1930an, organisasi paramiliter Partai Nazi Sturmabteilung (SA) meneror lawan-lawan politiknya. Pada masa kekuasaan Adolf Hitler (1933-1945), Schutzstaffel (SS) merupakan organisasi utama dalam menciptakan keadaan teror. SS dan Gestapo bertanggung jawab terhadap kezaliman terhadap berbagai ras, termasuk bangsa Yahudi. SS juga melakukan kekejaman di kamp-kamp konsentrasi, kejahatan dalam pendudukan, program perbudakan, serta pembunuhan terhadap tawanan perang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *