Mempertanyakan Ulang Tahun

Peringatan dan Perayaan Ulang Tahun yang Masa Kini

kompas.com

Tradisi memperingati ulang tahun telah menjadi hal yang sangat umum. Seakan-akan semua hal ada ulang tahunnya. Orang, sekolah, perusahaan, pernikahan, dan lain sebagainya. Bahkan, kematian juga ada ulang tahunnya.

Praktik yang dewasa ini berlangsung adalah orang merayakan ulang tahun dalam suasana kegembiraan. Dalam beberapa kebudayaan, memperingati ulang tahun seseorang biasanya dirayakan dengan mengadakan pesta ulang tahun dengan keluarga dan/atau teman. Untuk hari ulang tahun kelahiran seseorang, peringatan ulang tahun menandai hari dimulainya kehidupan di luar rahim. Dengan hitungan ini, maka hari ulang tahun pertamanya adalah tepat satu tahun seseorang dilahirkan ke dunia.

Selain pesta, hadiah atau kado ulang tahun, juga kue ulang tahun, sering menjadi bagian tidak terpisahkan dalam merayakan ulang tahun. Pada saat seseorang ulang tahun, sudah menjadi kebiasaan untuk memperlakukan seseorang secara istimewa pada hari ulang tahunnya.

Makna Ulang Tahun

goodminds.id

Mempertanyakan makna ulang tahun pada dasarnya sedang mempersoalkan tentang makna kehidupan. Kehidupan yang sudah ditempuhnya hingga saat dia berulang tahun adalah masa lalu. Sementara, kehidupan yang akan dijalaninya sejak dia berulang tahun entah sampai kapan adalah masa depannya.

Dari gambaran itu, maka ulang tahun dimaknai sebagai perayaan tercapainya sesuatu umur atau usia yang diharapkan oleh seseorang. Dia bersyukur usianya telah sampai bilangan tertentu. Pendeknya, dia dengan selamat masih bisa hidup sampai hari ulang tahunnya saat itu. Sehingga, bisa diasumsikan bahwa semakin banyak seseorang berulang tahun maka semakin baik. Atau semakin lama dia berada di dunia ini maka hal itu semakin baik.

Berangkat dari asumsi ini, bisa ditarik kesimpulan bahwa semakin manusia mencapai usia yang panjang, maka semakin berhasil dia. Begitu pula sebaliknya, ketika usia seseorang semakin pendek, maka semakin gagal dia. Sudut pandang yang dipakai adalah sudut pandang waktu semata, dengan mengabaikan apa yang sudah dilakukan di dalam waktu yang sudah diberikan oleh Tuhan.

Padahal, apabila kita mau merenungkan kehidupan itu sendiri, justru semakin hari manusia akan menuju kepada kematiannya. Jatah hidup yang diberikan Tuhan kepadanya setiap saat justru akan semakin berkurang. Sehingga, seharusnya yang dilihat adalah seberapa bermanfaat seorang manusia di dalam jatah waktu yang dia miliki. Jadi, ketika baik buruk seorang manusia dan berhasil atau gagal seseorang hanya dinilai dari masa atau durasi lamanya dia hidup di dunia, maka sangat bisa dipertanyakan tentang nilai keadilan atas penilaian terhadap manusia dengan parameter seperti ini. 

Bagaimana Agama Memandang Ulang Tahun

thejakartapost.com

Umumnya orang tidak melihat kaitan antara agama dengan permasalahan ulang tahun. Mereka memandang budaya ulang tahun sebagai bagian yang sama sekali terpisah dari ajaran agama. Benarkah pendapat seperti ini? Sebenarnya, bagaimana ulang tahun dilihat dari kacamata agama?

Kebaikan manusia bisa dinilai dari kacamata agama, karena agama memberi standar tertentu, aturan-aturan dan larangan-larangan tertentu di mana kepatuhan pemeluknya kepada ajaran-ajarannya menjadi penentu derajat orang tersebut dalam kehidupan.

Kemudian Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin –rahimahullah– menjelaskan : “Panjang umur bagi seseorang tidak selalu berbuah baik, kecuali kalau dihabiskan dalam menggapai keridhaan Allah dan ketaatanNya. Sebaik-baik orang adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalannya. Sementara orang yang paling buruk adalah manusia yang panjang umurnya dan buruk amalannya.

Karena itulah, sebagian ulama tidak menyukai doa agar dikaruniakan umur panjang secara mutlak. Mereka kurang setuju dengan ungkapan: “Semoga Allah memanjangkan umurmu” kecuali dengan keterangan “Dalam ketaatanNya” atau “Dalam kebaikan” atau kalimat yang serupa. Alasannya umur panjang kadang kala tidak baik bagi yang bersangkutan, karena umur yang panjang jika disertai dengan amalan yang buruk -semoga Allah menjauhkan kita darinya- hanya akan membawa keburukan baginya, serta menambah siksaan dan malapetaka” [Dinukil dari terjemah Fatawa Manarul Islam 1/43, di almanhaj.or.id].

Masa Romawi Kuno

Bangsa Romawi merayakan ulang tahun secara penuh antusias dengan pesta yang hedonistik dan hadiah yang berlimpah.

Agama Yahudi

Dalam agama Yahudi, pandangan pada perayaan ulang tahun masih diperdebatkan oleh berbagai rabbi. Di dalam Alkitab Ibrani, satu-satunya isi yang menyebutkan perayaan untuk memperingati hari kelahiran seseorang adalah mengenai ulang tahun Firaun Mesir yang terekam dalam Kejadian 40:20.

Bar mitzvah untuk anak laki-laki Yahudi berumur 13 tahun, atau bat mitzvah untuk anak perempuan Yahudi berumur 12 tahun, mungkin adalah satu-satunya perayaan Yahudi yang sering dikaitkan dengan ulang tahun. Walaupun perayaan modern, di mana “ulang tahun” sekuler seringkali mengecilkan hakikatnya sebagai ritual agama, namun pada mulanya inti dari perayaan bar mitzvah atau bat mitzvah sepenuhnya bersifat keagamaan (pencapaian kematangan beragama menurut hukum Yahudi), dan bukan bersifat sekuler. Dengan atau tanpa perayaan ulang tahun, seorang anak Yahudi tetap akan mengalami bar mitzvah atau bat mitzvah, dan mungkin dirayakan pada hari itu atau beberapa hari setelahnya.

Agama Kristen

Origen, seorang cendekiawan, zahid, dan teolog Gereja Perdana yang lahir dan mula-mula berkiprah di Aleksandria, dalam pendapatnya dalam “On Levites” menulis bahwa umat Kristiani tidak hanya harus menahan diri dari merayakan ulang tahun mereka, tetapi harus memandangnya dengan jijik.

Sementara itu, Saksi-Saksi Yehuwa dan beberapa kelompok Nama Suci (Sacred Name) menjauhkan diri dari perayaan ulang tahun. Mereka percaya bahwa perayaan ulang tahun digambarkan dalam cahaya yang negatif dalam Alkitab dan memiliki hubungan sejarah dengan sihir, takhayul, dan paganisme.

Agama Hindu

Umat Hindu merayakan hari kelahiran setiap tahun ketika hari yang sesuai dengan bulan lunar atau bulan matahari (Sistem Tanda Matahari Nirayana – Sourava Mana Masa) terjadi kelahiran dan memiliki asterisme yang sama (Bintang / Nakshatra) seperti tanggal lahir. Usianya terhitung setiap kali Janma Nakshatra dari bulan yang sama berlalu.

Agama Budha

tickmill.id

Berbagai biara merayakan ulang tahun kelahiran Buddha, biasanya dalam bentuk ritual yang sangat formal. Perayaan ini dilakukan di dalam bulan Mei pada waktu terang bulan (purnama sidhi) untuk memperingati 3 (tiga) peristiwa penting, yaitu:

  1. Lahirnya Pangeran Siddharta di Taman Lumbini pada tahun 623 S.M.,
  2. Pangeran Siddharta mencapai Penerangan Agung dan menjadi Buddha di Buddha-Gaya (Bodh Gaya) pada usia 35 tahun pada tahun 588 S.M.
  3. Buddha Gautama parinibbana (wafat) di Kusinara pada usia 80 tahun pada tahun 543 S.M.

Agama Islam

Setiap perkara yang dijadikan ‘ied atau perayaan berulang setiap pekan atau setiap tahun, dan tidak disyariatkan, maka itu termasuk perkara bid’ah. Islam tidak mengenal hari raya kecuali hari raya yang telah disyari’atkan: idul fitri, idul adha dan idul Usbu’ (hari raya pekanan) atau hari Jumat.

Beberapa ulama menganggap merayakan ulang tahun adalah perbuatan dosa, karena dianggap sebagai suatu “inovasi” dalam beragama, atau bid’ah, sedangkan ulama-ulama lain mengeluarkan pernyataan bahwa merayakan ulang tahun itu dibolehkan.

Dalil yang menunjukkan bid’ahnya perayaan hari ulang tahun (kelahiran) adalah bahwa pembuat syariat ini, yaitu Allah ‘azza wa jalla, yang mewahyukannya kepada Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menetapkan acara aqiqah untuk kelahiran seorang anak dan tidak menetapkan selain dari itu.

Juga, ada banyak sekali kontroversi mengenai perayaan Maulid Nabi. Sementara sebagian umat Islam merayakannya dengan penuh antusias, lainnya mengutuk perayaan tersebut, menganggap mereka telah keluar dari ruang lingkup ajaran Islam.

Contoh Perayaan Ulang Tahun dan Peringatan Ulang yang Lain

okezone.com

Contohnya perayaan Maulid Nabi, perayaan hari ibu, dan perayaan hari kemerdekaan. Contoh yang pertama, termasuk membuat-buat ritual ibadah baru yang tidak diizinkan oleh Allah, yang demikian juga merupakan tasyabbuh terhadap orang Nasrani dan kaum kuffar lainnya. Sedangkan contoh kedua dan ketiga, termasuk tasyabbuh terhadap kaum kuffar.

Namun jika tujuan diadakannya dalam rangka mengatur pekerjaan, misalnya, atau untuk merupakan hajat orang banyak, atau untuk menertibkan urusan-urusan orang banyak, seperti usbu’ al murur, yaitu pekan lalu lintas yang dilakukan di Arab Saudi dalam rangka sosialisasi tata tertib lalu lintas agar masyarakat menyadari pentingnya menaati peraturan lalu lintas, pengaturan jadwal kuliah, berkumpulnya karyawan yang bekerja, atau semacamnya yang pada asalnya tidak memiliki makna taqarrub atau ibadah dan pengagungan, yang demikian ini termasuk bid’ah ‘adiyah (inovasi dalam urusan non-ibadah), yang tidak termasuk ancaman hadits:

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس فيه فهو رد

sehingga hukumnya boleh saja, bahkan terkadang termasuk diajarkan oleh syariat

(Fatwa Lajnah Daimah Lil Buhuts Wal Ifta‘, fatwa no. 9403, juz 3 hal. 87 – 89)

Catatan Menarik tentang Ulang Tahun

liputan6.com

Di Korea Utara tradisi ulang tahun memiliki pantangan. Tidak setiap hari orang bebas merayakan ulang tahun. Ada dua hari terlarang di mana rakyat dilarang merayakan ulang tahun. Kedua tanggal larangan itu adalah 8 Juli dan 17 Desember. Ternyata, tanggal tersebut merupakan tanggal wafat pemimpin negara itu, masing-masing Kim Il-sung dan Kim Jong-il.

Lebih dari 100.000 orang Korea Utara memindahkan tanggal ulang tahunnya menjadi 9 Juli atau 18 Desember untuk menghindari tanggal-tanggal tersebut. Seseorang yang lahir pada tanggal 8 Juli sebelum 1994 dapat mengubah hari ulang tahunnya, dengan pengakuan resmi.

Mensikapi Ulang Tahun

hidayatullah.com

Bagaimana sikap yang benar?

Jika demikian, sikap yang Islami dalam menghadapi hari ulang tahun adalah: tidak mengadakan perayaan khusus, biasa-biasa saja dan berwibawa dalam menghindari perayaan semacam itu. Mensyukuri nikmat Allah berupa kesehatan, kehidupan, usia yang panjang, sepatutnya dilakukan setiap saat bukan setiap tahun. Dan tidak perlu dilakukan dengan ritual atau acara khusus, Allah Maha Mengetahui yang nampak dan yang tersembunyi di dalam dada. Demikian juga refleksi diri, mengoreksi apa yang kurang dan apa yang perlu ditingkatkan dari diri kita selayaknya menjadi renungan harian setiap muslim, bukan renungan tahunan.

Oleh karena itu, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang siapakah manusia terbaik, beliau menjawab,

مَنْ طَالَ عُمُرُهُ، وَحَسُنَ عَمَلُهُ

“Siapa saja yang berumur panjang dan baik amalnya.” (HR. Ahmad no. 17698, 17680 dan Tirmidzi no. 2251, hadits shahih)

Atas dasar inilah, sebagian ulama membenci untuk didoakan panjang umur secara mutlak.

Wallahu’alam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *