Mengapa Uni Soviet Runtuh?

Sekilas Uni Soviet 

Uni Soviet merupakan salah satu negara komunis terbesar di dunia pada masanya. Uni Soviet berdiri pada tanggal 25 Oktober 1917. Pada masa kejayaannya, Uni Soviet terlibat perang dingin melawan Amerika Serikat sebagai bentuk persaingan di antara sesama negara adidaya. Uni Soviet memiliki nama resmi Union of Soviet Socialist Republics atau disingkat dengan USSR.

Setelah berdirinya Uni Soviet, Vladimir Lenin yang merupakan tokoh revolusioner komunis asal Uni Soviet berusaha untuk menyebarkan paham komunisnya terutama di negara-negara sebelah timur. Saat masa kejayaannya, Uni Soviet berhasil menularkan paham komunisme ke negara-negara di Eropa Timur. Namun, pada akhirnya Uni Soviet terpaksa runtuh pada tanggal 26 Desember 1991.

wikipedia.org

Pada dasarnya, Uni Soviet merupakan Negara Federasi Sosialis yang terdiri dari 15 Negara Bagian. Antara bulan Juli 1956 hingga September 1991, ada 15 negara republik anggota Uni Soviet. Meski sebenarnya semua republik mempunyai kedudukan yang sama, nyatanya Uni Soviet didominasi oleh RSFS Rusia sebagai republik yang paling besar dan kuat. Oleh karena itu, hingga tahun 1980-an, banyak orang yang salah kaprah menyebut Uni Soviet sebagai “Rusia”.

Negara-Negara Bagian Uni Soviet

Beriringan waktu dengan bubarnya Uni Soviet, kelima belas negara bagian tersebut satu per satu mendeklarasikan kemerdekaannya hingga menjadi salah satu sebab bubarnya Negara Uni Republik Sosialis Soviet ini. Berikut ini adalah daftar lengkap negara-negara berdaulat bekas pecahan Uni Soviet yang kini telah diakui oleh negara-negara Internasional atau PBB.

1 RSFS Rusia

Wilayah Eropa Timur

2 RSS Byelorusia (sekarang Belarus)

3 RSS Moldavia

4 RSS Ukraina

Wilayah Baltik

5 RSS Estonia

6 RSS Latvia

7 RSS Lituania

Wilayah Asia Tengah

8 RSS Kazakhstan

9 RSS Kirgizstan

10 RSS Tajikistan

11 RSS Turkmenistan

12 RSS Uzbekistan

Wilayah Kaukasus

13 RSS Armenia

14 RSS Azerbaijan

15 RSS Georgia

Penyebab Uni Soviet Runtuh 

Sebab keruntuhan Uni Soviet tidak tunggal. Ada beberapa faktor yang saling mempengaruhi sehingga proses keruntuhan itu menjadi niscaya dan tidak bisa dibendung lagi. Selain karena faktor asli karakteristik rezim komunis yang tidak manusiawi, faktor situasi dan kondisi yang sedang dalam keterpurukan ekonomi juga makin mempercepat proses keruntuhan Uni Soviet sebagai sebuah negara besar. 

Penyebab-penyebab itu meliputi hal-hal berikut: masalah nasionalisme, pemerintahan yang totaliter, kemiskinan dan pelemahan ekonomi, kebijakan Gorbachev, serta bubarnya Pakta Warsawa.

1 Nasionalisme dan Konflik Etnis

Uni Soviet memiliki wilayah yang sangat luas dengan membawahi 15 negara berbentuk republik. Luas wilayah itu pula yang menyebabkan Uni Soviet memiliki keanekaragaman budaya pada masing-masing negara bagiannya. Keragaman yang tidak dikelola dengan baik inilah pada akhirnya menjadi api dalam sekam yang mendorong semangat kedaerahan yang menjelma menjadi nasionalisme kedaerahan. Mereka lebih loyal dengan budayanya masing-masing dibandingkan merasa sebagai satu kesatuan dengan negara induknya. Hal ini mengakibatkan persaingan nasionalisme etnis di republik-republik Soviet.

Bangkitnya nasionalisme kedaerahan segera menghidupkan kembali ketegangan antaretnis di berbagai republik Soviet yang semakin memperlemah cita-cita persatuan rakyat Soviet. Sebagai contoh, pada bulan Februari 1988, pemerintah Nagorno-Karabakh, RSS Azerbaijan, yang didominasi oleh etnis Armenia, meloloskan keputusan yang menyatakan penggabungan wilayahnya dengan RSS Armenia. Kejadian seperti ini memerlukan dana besar untuk meredamnya, sehingga energi pemerintahan pusat menjadi sangat terkuras. Ketegangan antaretnis ini kelak akan menjadi cikal bakal radikalisme dan terorisme bahkan pasca-keruntuhan Uni Soviet.

Meski sudah dilakukan berbagai upaya untuk meredamnya, ketidakstabilan di Eropa Timur mau tidak mau menyebar ke negara-negara yang tergabung dalam Uni Republik Sosialis Soviet. Hal ini tidak lepas dari akibat politik dari glasnost yang digagas oleh pemerintahan Gorbachev. Bahkan, dalam pemilihan umum untuk memilih anggota dewan regional di republik-republik Uni Soviet, kaum nasionalis dan tokoh pembaruan radikal banyak yang terpilih. Akibatnya, semangat negara-negara republik untuk memiliki pemerintahan sendiri dengan identitas mereka sendiri makin lama makin berkobar.

2 Pemerintahan Totaliter

Sebagai negara komunis, Uni Soviet diperintah dengan cara menciptakan ketundukan dan kebergantungan rakyat kepada negara, baik di bidang pemerintahan maupun bidang ekonomi. Dari sinilah muncul pemerintahan totaliter yang menghambat rakyat dalam menyampaikan pendapatnya secara bebas. Sehingga tidak aneh ketika negara-negara bagian itu merdeka, mereka akhirnya mendirikan negara baru dengan paham demokrasi. Perekonomian dan pemerintahan di Uni Soviet sangat sentralistik.

Sistem totaliter ini lambat laun disadari oleh pemerintah akan menimbulkan gejolak di dalam negeri apabila tidak dicarikan jalan keluar. Oleh karena itu, pemerintahan Gorbachev berupaya untuk merampingkan sistem komunis dengan glasnost dan perestroika. Akibatnya, laksana senjata makan tuan, pelaksanaan gagasan ini menjadi sulit dikendalikan sehingga mengakibatkan serangkaian peristiwa yang akhirnya ditutup dengan pembubaran Uni Soviet. 

Penyensoran media yang tak lagi ketat tentu menjadi kejutan yang luar biasa untuk sebuah rezim yang sebelumnya sangat totaliter. Partai Komunis tidak dapat berbuat banyak saat media mulai menyingkap masalah-masalah sosial dan ekonomi yang telah lama disangkal dan ditutup-tutupi oleh pemerintah. Masalah seperti perumahan yang buruk, alkoholisme, penyalahgunaan obat-obatan, polusi, pabrik-pabrik yang sudah ketinggalan zaman sejak masa Stalin dan Brezhnev, serta korupsi yang sebelumnya diabaikan oleh media resmi, kini mendapatkan perhatian yang semakin besar. Selain itu, perang di Afganistan dan kekeliruan penanganan Bencana Chernobyl semakin merusak citra pemerintah. Keyakinan masyarakat terhadap sistem pemerintahan Soviet semakin melemah sehingga mengancam integritas Uni Soviet.

Republik-republik anggota Uni Soviet menjadi makin berani menegaskan kedaulatan nasional mereka terhadap Moskwa dan mulai melancarkan “perang undang-undang” dengan pemerintah pusat. Pemerintahan republik-republik anggota Uni Soviet, terutama Trio Baltik, yaitu Estonia, Lituania, dan Latvia, membatalkan semua undang-undang federal jika undang-undang itu bertentangan dengan undang-undang setempat, menegaskan kendali mereka terhadap perekonomian setempat, dan menolak membayar pajak kepada pemerintah pusat di Moskwa.

3 Kemiskinan dan Pelemahan Ekonomi

Perekonomian Uni Soviet menganut paham sosialisme yang menyebabkan segala hal yang berurusan dengan perekonomian harus dilakukan dengan melibatkan pemerintah. Hal ini menyebabkan kreativitas warga untuk mengupayakan perekonomian juga terbelenggu. Selain itu, pengelolaan kas negara Uni Soviet lebih difokuskan untuk kepentingan eksternal daripada untuk kesejahteraan internal rakyat. Dalam dekade terakhir (keberadaan Uni Soviet), tingkat pertumbuhan ekonomi terus menurun, kualitas barang memburuk, dan kemajuan teknologi melambat.

Pada 1980-an perekonomian Uni Soviet mengalami inflasi tersembunyi yang diperparah oleh maraknya pasar gelap. Selain itu, biaya yang harus dikeluarkan sebagai negara adidaya dalam bidang militer, spionase, dan bantuan bagi negara-negara sahabat, telah banyak membebani perekonomian Uni Soviet. Gelombang baru industrialisasi yang didasarkan pada teknologi informasi membuat Uni Soviet kelabakan mengadopsi teknologi Barat dan mencari kredit untuk mengatasi keterbelakangannya.

Kebijakan perestroika dan glasnost yang mulanya dimaksudkan sebagai alat untuk merangsang perekonomian Uni Soviet malah menimbulkan akibat-akibat yang tak diharapkan. Ketidakpuasan masyarakat terhadap situasi ekonomi semakin memburuk. Meski perestroika dianggap berani dalam konteks sejarah Uni Soviet, upaya Gorbachev untuk melakukan pembaruan ekonomi tidak begitu radikal dan dinilai terlambat untuk membangun kembali ekonomi negara yang sangat lesu pada akhir tahun 1980-an. Berbagai terobosan dalam hal desentralisasi memang berhasil dicapai, tetapi Gorbachev dan timnya sama sekali tidak merombak kebijakan-kebijakan ekonomi warisan Stalin seperti pengendalian harga, mata uang rubel yang tidak dapat dipertukarkan, tidak diakuinya kepemilikan pribadi, dan monopoli pemerintah atas sebagian besar sarana produksi.

Pemerintah pusat yang tidak dapat lagi membuat kebijakan produksi, khususnya dalam industri pemenuhan kebutuhan pokok, menyebabkan lenyapnya rantai produsen dengan pemasok sementara rantai yang baru belum terbentuk. Jadi, bukannya merampingkan sistem, program desentralisasi Gorbachev justru menyebabkan kemacetan proses produksi.

4 Kebijakan Gorbachev

rbth.com

Gorbachev, pemimpin terakhir sebelum keruntuhan Uni Soviet, pada masa pemerintahannya memperkenalkan sebuah program restrukturisasi berupa glasnost (keterbukaan politik), perestroika (restrukturisasi ekonomi), dan uskoreniye (percepatan pembangunan ekonomi). Pada awalnya langkah ini ditujukan untuk memperkokoh Uni Soviet. Akan tetapi, nyatanya program tersebut mempunyai efek yang cukup besar untuk meningkatkan kekuatan masing-masing republik sehingga menyebabkan gelombang perpecahan dan akhirnya memaksa Uni Soviet untuk bubar di penghujung tahun 1991.

Undang-Undang Koperasi yang diberlakukan pada bulan Mei 1988 merupakan salah satu kejutan dalam agenda pembaruan ekonomi Gorbachev. Untuk pertama kalinya sejak Kebijakan Ekonomi Baru yang digagas oleh Lenin, negara mengizinkan kepemilikan pribadi perusahaan dalam bidang jasa, manufaktur, dan perdagangan luar negeri.

Gorbachev mengadakan glasnost dengan tujuan menekan kaum konservatif yang menentang kebijakan restrukturisasi ekonominya. Melalui berbagai keterbukaan, debat, dan partisipasinya, Gorbachev berharap rakyat Soviet akan mendukung setiap langkah pembaruannya. Glasnost memberi kebebasan berbicara dan berpendapat secara lebih besar. Kebebasan pers mulai diterapkan serta ribuan tahanan politik dibebaskan dari kamp-kamp kerja paksa. 

Bahkan, pada bulan Januari 1987, Gorbachev menyerukan demokratisasi dengan memperkenalkan unsur-unsur demokrasi seperti pemilihan umum dengan banyak calon dalam dinamika politik Uni Soviet. Pada bulan Juni 1988, dalam Kongres Partai Komunis Uni Soviet XIX, Gorbachev menggulirkan pembaruan-pembaruan radikal yang dimaksudkan untuk mengurangi kendali Partai Komunis terhadap aparat pemerintah.

Kebijakan yang tadinya dimaksudkan untuk mempercepat perekonomian, justru malah menghancurkan sosialisme dan Uni Soviet dan kepemimpinan Gorbachev sendiri yang mengalami pelemahan. Demi modernisasi ekonomi, Gorbachev memulai proses demokratisasi radikal dengan lebih sedikit campur tangan pemerintah yang akhirnya menjadi bumerang.

5 Bubarnya Pakta Warsawa

rbth.com

Pakta Warsawa merupakan perjanjian internasional untuk membentuk aliansi militer negara-negara Blok Timur di Eropa Timur. Pakta Warsawa dibentuk untuk mempersiapkan diri melawan pasukan dari Blok Barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat. Salah satu anggota dari Pakta Warsawa adalah Uni Soviet. Pakta Warsawa yang sebelumnya merupakan benteng Uni Soviet beserta negara-negara Eropa Timur terhadap pengaruh Amerika Serikat, semakin lama semakin lemah dan bubar. 

Pertikaian antarnegara anggota Pakta Warsawa membuat Uni Soviet tidak mampu lagi mengandalkan negara-negara satelitnya untuk melindungi perbatasannya. Pada tahun 1989, Doktrin Brezhnev ditanggalkan dan kebijakan untuk tidak ikut campur urusan dalam negeri negara-negara satelitnya di Eropa Timur dijadikan sebagai pengganti. Hal itu membuat pemerintahan di negara-negara satelit Uni Soviet di Eropa Timur kehilangan jaminan bantuan dan intervensi Soviet apabila rakyatnya memberontak. Pada akhirnya, pemerintahan berhaluan komunis di Bulgaria, Cekoslowakia, Hongaria, Jerman Timur, Polandia, dan Rumania yang berkuasa sejak akhir Perang Patriotik Raya runtuh.

Pakta Warsawa adalah aliansi militer negara-negara Blok Timur di Eropa Timur, yang bertujuan mengorganisasikan diri terhadap kemungkinan ancaman dari aliansi NATO (yang dibentuk pada 1949). Pakta Warsawa dibentuk 14 Mei 1955 dan berakhir pada tanggal 1 Juli 1991. Seiring dengan memudarnya pengaruh Uni Soviet sebagai pemimpin Pakta Warsawa, maka semakin memudar juga ikatan di antara negara-negara republik bagian Uni Soviet.

Negeri Beruang Putih itu Tinggal Kenangan

Lima faktor utama penyebab Uni Soviet runtuh di atas akhirnya memaksa Gorbachev meletakkan jabatannya sebagai Presiden Uni Soviet pada tanggal 25 Desember 1991 dan merelakan kekuasaannya kepada Boris Yeltsin. Puncaknya, Majelis Agung Uni Soviet membubarkan dirinya pada tanggal 26 Desember 1991 yang sekaligus menandai runtuhnya Uni Soviet sebagai suatu federasi, hanya terpaut empat hari sebelum hari jadinya yang ke-69.

Metamorphosis yang sangat dahsyat telah terjadi di sebuah negeri yang paling luas di dunia. Saking luasnya Uni Soviet, negara pecahan terbesarnya yaitu Rusia tetap menjadi negara terbesar di dunia setelah keruntuhannya. Sebuah perubahan yang unik, luar biasa dan menjadi titik perhatian dunia. Runtuhnya sebuah rezim komunis yang telah bertahta hampir genap 70 tahun. Uni Soviet runtuh dan kemudian menjelma sebuah negeri baru dengan tatanan baru dan nama baru, yaitu Rusia baru yang menganut demokrasi dan kapitalisme.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *