7 Negara Pecahan Yugoslavia

wikipedia.org

Yugoslavia (berarti “Slavia Selatan”) merupakan sebuah negara yang pernah ada di daerah Balkan, di sebelah tenggara Eropa, dari tahun 1918 sampai tahun 2003. Dalam perjalanannya, negara ini pernah berbentuk kerajaan dan republik. Negara ini beribukota di Beograd.

Pertikaian antar etnis merupakan sejarah panjang di Yugoslavia. Sejak 1940-an, Yugoslavia pada masa ini menjadi medan pertempuran berdarah, di mana penduduknya bukan hanya memerangi pasukan pendudukan Poros namun juga saling membantai antara sesama warga–suatu preseden bagi perang antaretnis berikutnya pada tahun 1990-an.

Setelah kemenangan komunis dalam Perang Dunia Kedua, Yugoslavia didirikan sebagai negara federal yang terdiri dari enam republik, yang mana dipisahkan berdasarkan latar belakang sejarah dan etnis, di antaranya Slovenia, Kroasia, Bosnia-Herzegovina, Serbia, Montenegro, dan Makedonia. Terdapat pula dua provinsi otonomi yang didirikan di Serbia, yaitu Vojvodina dan Kosovo. Setiap negara republik memiliki cabang partai komunis dan pejabat elit, dan semua perselisihan yang ada diselesaikan di tingkat federal.

Model pemerintahan Yugoslavia beserta “jalan tengah” di antara ekonomi terpimpin dan liberal yang dianut merupakan sebuah keberhasilan dan negara tersebut pun mengalami masa-masa pertumbuhan ekonomi yang tinggi serta politik yang relatif stabil sampai dengan tahun 1980-an, di bawah kekuasaan handal presiden seumur hidup Josip Broz Tito. 

Tito dan Gerakan Non-Blok dan Awal Mula Perpecahan

Gerakan Non-Blok sendiri bermula dari sebuah Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika sebuah konferensi yang diadakan di Bandung, Indonesia, pada tahun 1955. Di sana, negara-negara yang tidak berpihak pada blok tertentu mendeklarasikan keinginan mereka untuk tidak terlibat dalam konfrontasi ideologi Barat-Timur. Pendiri dari gerakan ini adalah lima pemimpin dunia: Josip Broz Tito presiden Yugoslavia, Soekarno presiden Indonesia, Gamal Abdul Nasser presiden Mesir, Pandit Jawaharlal Nehru perdana menteri India, dan Kwame Nkrumah dari Ghana.

Pada masa kepemimpinan Tito, Republik Federasi Sosialis Yugoslavia cukup populer di mata internasional berkat popularitas kepemimpinan pribadi Tito. Figur Tito sebagai tokoh pemersatu bangsa Yugoslavia memang tepat karena di samping bakat kepemimpinan dan kewibawaannya, sebagai keturunan dari etnis Kroasia Tito menikah dengan warga etnis Serbia. Akan tetapi keadaan kemudian berubah yaitu ketika pada bulan Mei 1980 Tito meninggal dunia tanpa sempat mempersiapkan pengganti yang sekuat dirinya.

Sepeninggal Tito, kehidupan politik dan negara seakan-akan kehilangan arah. Negara yang kemudian dipimpin secara kolektif oleh suatu badan Presidensi berjumlah delapan orang dan partai juga dipimpin Presidium beranggotakan 24 orang, ternyata sering mengalami benturan satu sama lain dalam praktik pengambilan keputusan. Hal ini diperparah dengan semakin melemahnya sistem pemerintahan federal sehingga tidak lagi mampu menangani tantangan politik dan ekonomi yang semakin sulit. Di lain pihak, pengaruh kekuasaan Republik bagian yang bertambah kuat karena dorongan nasionalisme etnis yang semakin tampak telah mengakibatkan perpecahan menjadi semakin parah.

Maka, pecahlah kemudian Yugoslavia menjadi tujuh negara.

7 Negara Pecahan Yugoslavia

Saat ini Yugoslavia terpecah menjadi 7 negara yang masing-masing memiliki karakteristik etnis dan agama yang sulit untuk disatukan. Ketujuh negara yang terbentuk saat ini adalah sebagai berikut:

1 Serbia

Etnis: Serbia 83,3%

Agama: Kristen Orthodoks: 84,5%

Asal-mula Serbia beranjak dari awal pertengahan abad ke-9. Kerajaan Serbia muncul pada abad ke-11, dan pada abad ke-13 menjadi Kekaisaran Serbia. Serbia terbentuk pada 1 December 1918. Serbia merupakan negara perintis Yugoslavia. Serbia merdeka setelah perang Yugoslavia pada tanggal 5 Juni 2006.

Sejak 1991, negara-negara yang merasa memiliki etnis dan agama yang berbeda mulai memisahkan diri menjadi negara sendiri, yaitu: Slovenia, Kroasia, Macedonia, dan Bosnia-Herzegovina.

Pada 2003 hingga 2006, Serbia masih bergabung dengan Montenegro dalam suatu persemakmuran yang dinamakan Uni Negara Serbia dan Montenegro dengan ibu kota negara Beograd. Sejak 2006, Serbia menjadi negara merdeka lagi setelah Montenegro meninggalkan Uni Negara Serbia dan Montenegro yang lahir setelah bubarnya Yugoslavia di era 1990-an.

2 Slovenia

Merdeka: 25 Juni 1991

Etnis: Slovenia 83,06%

Agama: Katholik Roma 73,2%

Pada tanggal 25 Juni, Slovenia memproklamasikan kemerdekaan memisahkan diri secara sepihak dari Yugoslavia. Pemisahan diri tersebut sedikitnya didukung oleh negara-negara Masyarakat Eropa, dan pada akhirnya mendapat pengakuan masyarakat internasional padahal pemerintah Yugoslavia berkeras untuk mencegahnya sehingga pecahlah konflik bersenjata yang bermula di Kroasia dan Slovenia.

Tentara Federal sempat melakukan intervensi. Akan tetapi perang di Slovenia hanya berlangsung 7 hari karena penduduk di sana nyaris homogen sehingga tidak ada kepentingan warga Serbia yang terancam.

3 Kroasia

Merdeka: 25 Juni 1991

Etnis: Kroasia 90,42%

Agama: Katholik Roma 86.28%

Pada tanggal 25 Juni, Kroasia juga memproklamasikan kemerdekaan memisahkan diri secara sepihak dari Yugoslavia. Tentara Federal (terutama beranggotakan orang Serbia) mengintervensi. Dibandingkan dengan Slovenia yang memiliki penduduk homogen, perang di Kroasia berlangsung sengit dan lama serta kejam karena ingatan sejarah Perang Dunia II maupun besarnya komunitas Serbia di wilayah tersebut.

4 Macedonia

Merdeka: 8 September 1991

Etnis: 

Macedonian 64,2%

25.2% Albanians

Agama: 

Kristen Orthodoks 64,8%

Islam 33,3%

Macedonia Utara merupakan negara dengan proporsi jumlah muslim tertinggi peringkat kelima di Eropa setelah Kosovo (96%), Turki (90%), Albania (59%), dan Bosnia and Herzegovina (51%).

Berbeda dengan yang terjadi dengan Slovenia dan Kroasia, Republik Macedonia, yang merupakan negara bagian termiskin, memerdekakan diri dari Yugoslavia, Tentara Federal diam saja. Tidak ada pertempuran yang berarti.

Meskipun demikian, pernyataan kemerdekaan Republik Makedonia mengalami hambatan karena namanya yang ditentang oleh Yunani tidak segera mendapat pengakuan dari Masyarakat Eropa.

5 Bosnia-Herzegovina

Merdeka: 1 Maret 1992

Etnis:

Bosnia dan Herzegovina adalah rumah bagi tiga etnis besar dengan proporsi yang hampir rata, yaitu Bosnia, Serbia, dan Kroasia, ditambah sejumlah kelompok kecil termasuk Yahudi dan Roma. Menurut data dari sensus 2013 yang diterbitkan oleh Badan Statistik Bosnia dan Herzegovina, Bosnia mencapai 50,11% dari populasi, Serbia 30,78%, Kroasia 15,43%.

Agama:

Lebih dari 96% populasi Bosnia-Herzegovina terbagi dalam tiga suku konstituen yang asli: Bosniak, Serbia, dan Kroasia. Istilah konstituen merujuk pada fakta bahwa ketiga kelompok etnis ini secara eksplisit disebutkan dalam konstitusi, dan bahwa tidak ada dari mereka yang dapat dianggap sebagai minoritas atau imigran. Fitur yang paling mudah dikenali yang membedakan tiga kelompok etnis adalah agama mereka, dengan Bosniaks mayoritas Muslim, Serbia didominasi Kristen Ortodoks, dan Katolik Kroasia.

Bosnia-Herzegovina merupakan peringkat keempat negara dengan proporsi jumlah muslim terbanyak di Eropa setelah Kosovo (96%), Turki (90%), dan Albania (59%).

Kasus Bosnia-Herzegovina

Setelah tiga negara bagian melepaskan diri, hal yang sama terjadi juga di Bosnia-Herzegovina. Konflik yang kemudian terjadi di Bosnia Herzegovina tidak terlepas dari proses disintegrasi lanjutan dari Yugoslavia. Akan tetapi, situasinya sangat jauh berbeda. 

Masyarakat Eropa yang berperan aktif dalam peristiwa pemisahan diri Kroasia dan Slovenia ternyata ikut pula campur tangan di Bosnia Herzegovina melalui Komisi Arbitrasi Masyarakat Eropa yang menyimpulkan bahwa Republik tersebut layak mendapat pengakuan sebagai negara yang berdaulat. Pengakuan internasional terhadap Republik Bosnia Herzegovina yang merupakan “mini” Yugoslavia yang juga berpenduduk multi nasional, multi agama dan komposisi penduduk yang heterogen ini dinilai oleh banyak pihak sebagai terlalu dini, mengingat masih banyaknya masalah-masalah yang belum terselesaikan sehingga timbullah pertikaian antar etnis di antara penduduk Republik Bosnia Herzegovina.

Republik Bosnia Herzegovina terletak di bagian sentral Yugoslavia, dan sering dianggap sebagai “miniatur Yugoslavia” karena penduduknya multi nasional yaitu terdiri dari umat Muslim, Serbia dan Kroasia yang bercampur menjadi satu. Itulah sebabnya Republik tersebut sebelum mendapat pengakuan internasional masih dilanda pertikaian-pertikaian seperti masalah etnis, tidak adanya kesamaan pendapat mengenai bentuk masa depan Republik tersebut dan masalah perebutan kekuatan masalah wilayah.

Republik Bosnia-Herzegovina pada bulan Maret 1992 mengadakan referendum untuk menentukan sebagai negara merdeka atau tetap dalam Federasi. Referendum yang diboikot oleh etnis Serb di Bosnia Herzegovina (karena etnis Serb di Bosnia Herzegovina tanggal 30 Maret 1992 telah mengadakan referendum sendiri dan memutuskan tetap tinggal di Yugoslavia) tersebut menghasilkan suatu keputusan untuk merdeka. Oleh sebab itu pada tanggal 6 April 1992 kelompok negara-negara ME dan AS kemudian memberikan pengakuan dengan segera kepada Republik Slovenia, Kroasia dan Bosnia Herzegovina, tanpa menunggu tercapainya stabilitas politik di wilayah-wilayah tersebut.

6 Montenegro

Merdeka: 3 Juni 2006

Etnis:

44.5% Montenegrins

28.7% Serbia

Agama:

Kristen Orthodoks 72,1%

Islam 19,1%

Republik Serbia dan Republik Montenegro membentuk Federasi Yugoslavia versi baru dengan nama “Republik Federasi Yugoslavia” pada tanggal 27 April 1992 namun tidak mendapat pengakuan internasional sebagaimana republik-republik bagian yang sudah  memisahkan diri sebelumnya.

Pada 21 Mei 2006, rakyat Montenegro menyelenggarakan pemilihan dalam bentuk Referendum Kemerdekaan Montenegro dan sebanyak 55,5 persen pemilih menginginkan kemerdekaan Montenegro. Selanjutnya pada tanggal 3 Juni, 2006, Parlemen Montenegro memproklamirkan kemerdekaan Montenegro, sehingga selanjutnya Montenegro menjadi sebuah negara sendiri.

7 Kosovo

Merdeka: 17 Februari 2008

Etnis: Albania 88%

Agama: Islam 95,6%

Kosovo merupakan negara degan proporsi jumlah muslim tertinggi di Eropa, diikuti oleh Turki (90%), Albania (59%), Bosnia-Herzegovina (51%), dan Macedonia Utara (33,3%).

Pengakuan negara ini sebagai negara berdaulat masih menuai perdebatan.

Saat berdirinya Yugoslavia, Kosovo menjadi provinsi dari Serbia dengan status Daerah Otonomi Khusus, di bawah administrasi PBB, tetapi pada 17 Februari 2008 Kosovo mendeklarasikan kemerdekaan secara sepihak. Deklarasi ini ditentang oleh Serbia, tetapi didukung oleh negara-negara Barat.

Ibu kota Kosovo berada di Priština. Kemerdekaan Kosovo telah diakui secara resmi oleh berbagai negara, di antaranya Albania, Amerika Serikat, Britania Raya, Prancis, dan Turki. Negara yang menolak kemerdekaan Kosovo antara lain Republik Rakyat Tiongkok, Rusia, dan Serbia.

Kesimpulan

Pecahnya Yugoslavia harus menjadi pelajaran untuk Indonesia yang pernah bersama Yugoslavia membidani Gerakan Non Blok. Negara kita juga memiliki keanekaragaman agama dan etnis, atau multikultur, seperti Yugoslavia. Dilihat dari struktur masyarakatnya, Yugoslavia yang terpecah dalam percampuran berbagai etnis dan agama. Misalnya wilayah Slovenia dan Kroasia mayoritas beragama Katholik Roma, Bosnia dan Kosovo adalah negara mayoritas muslim. Sedangkan Serbia, Montenegro, dan Makedonia menganut Kristen Orthodoks. Di Yugoslavia, keanekaragaman etnis dan agama ini telah menjelma menjadi sebuah bentuk nasionalisme baru. Antara berbagi etnis dan agama ini tidak bisa terjalin perdamaian. Sungguhpun begitu kita harus bersyukur, sampai hari ini kita masih bisa kokoh dalam persatuan dan kesatuan, dengan Bhinneka Tunggal Ika.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *